Blogroll

Your SEO optimized title page contents

Minggu, 29 April 2012

ISTRI KU NGIDAM THEREESOME

Sudah 3 tahun aku menunggu akhirnya istriku hamil juga. Hasil pemeriksaan dokter dia sudah terlambat 2 bulan, dan dinyatakan bahwa istriku sehat, kehamilannya juga tidak ada masalah.



Karena ini kehamilan pertama otomatis istriku yang cantik, mungil ini sangat manja, belum waktunya ngidam dia sudah minta yang aneh aneh, kemarin dia minta kelapa muda yang harus aku ambil sendiri di pohonnya?what !! tapi demi istri tersayang aku mau juga belajar memanjat, tentu saja memakai tali pengaman.



Tetapi permintaan kali ini membuat aku terperanjat dan bingung bagaimana memenuhinya. Ketika kami asyik tiduran di kamar tiba tiba istriku bicara pelan, "Mas sebenarnya aku ngidam sesuatu yang agak aneh, tapi aku takut ngomong sama mas. Takutnya ntarr mas marah. Tapi nggak tahu aku pusing banget, ngidam yang satu ini kayaknya harus kesampaian.."



"Ngidam apa sih sayang? Kalo bisa aku cari ya tentulah aku cari.." kataku sambil baca koran.



"Bener nih gak marah ? Tapi aku sebenarnya gak mau. Cuma entah sampe terbawa mimpi mas. Aneh banget. Aku ngidam ini mas..." Rini istriku menyodorkan cakram DVD.



"Hmmm apa nih ma ? hehehehehe jadi pengen bercinta nih ? kalo ngidam begini gampang... mas sekarangpun ok ok aja...." kataku senyum senyum sambil menyalakan film XXX tersebut di player.



Rupanya film tentang cewek disetubuhi rame rame.



"Wah masa pengen bercinta rame rame begini? wah kamu bisa aja.." kataku sambil asyik nonton film horny tersebut. Jujur saja kadang aku juga suka membayangkan ikut pesta seks bersama istriku. Kadang aku membayangkan istriku disetubuhi oleh beberapa orang lelaki sekaligus. Tapi sayang rasa cemburuku terlalu besar hingga akhirnya aku mengubur imajinasiku itu dalam-dalam.



Sambil tertunduk istriku berkata pelan, "Itu masalahnya, Mas. Aku sering mimpi disetubuhi sama cowok-cowok ganteng yang berbatang besar gitu mas. aneh ya.. apa aku ini sudah gila? tapi setiap aku tidur, mimpi itu langsung berputar di kepalaku.."



Sungguh aku terkejut bukan main. Ini tidak main main.. ngidam model apa ini ?!



"Nggak ah !! gimana sih kamu? jangan bercanda Rin??" Teriakku menahan marah.



Istriku menundukkan kepalanya sambil menangis. "Tapi aku memang kepengen, mas.. bawaan jabang bayi nih.."



Permintaannya memang gila dan bikin pusing kepala, sengaja 2 minggu ini aku biarkan. Akibatnya dia menangis tiap malam, aku sama sekali tidak diajak bicara.



Aku benar2 penasaran sebenar yang dia inginkan detailnya bagaimana sih ?



Akhirnya suatu malam aku ajak dia bicara baik-baik. "Dik... ok ok...gini gini... sebenarnya kamu inginnya bagaimana sih sayang ? hmmm...."



Sambil masih menangis istriku berbicara tersendat sendat. "Aku sebenarnya Cuma ingin di gosok gosok aja kok mas, gak masuk beneran. Cuma penasaran aja gimana rasanya telanjang n disentuh lelaki asing. bener gak masuk dan lagi kan dia nanti pake kondom. boleh ya mas...?" Istriku kembali menangis.



Kepalaku benar benar pusing. Jelas aku tidak terima istriku disetubuhi laki laki lain. gila apa...!! Memang sih tidak sampai masuk, tapi kan nempel juga..



Terpikir olehku mending aku cerai saja, tapi menceraikan istri ketika hamil jelas jelas gak bener juga.



Aku menceritakan masalah ini pada Andi, kawan akrabku sejak sekolah yang juga temannya Rini. Ia mengerti kesulitanku.



"Ron, itu memang permintaan gila. Eh sorry aku gak bilang istrimu gila... Tapi itu bener-bener permintaan yang lain dari pada yang lain."



"Terus aku harus gimana Ndi ? masa aku harus carikan gigolo ? wah..gila apa !!?" Emosiku meledak ledak. "Atau kamu mau bantu Ndi ? aku tahu kamu bersih, tapi aaahhhh gila ! aku gak bisa melihat istriku disetubuhi orang lain !"



"Tenang Ron, kan gak bercinta beneran. cuma nempel doang... mungkin gak terlalu parah sih... dan pake kondom lagi. cukup aman buat istrimu dan kandungannya. Mungkin istrimu cuma ingin merasakan gosokan di klitorisnya.." Andi berusaha meredam kemarahanku.



Beberapa hari aku tidak bisa tidur. akhirnya aku bulatkan tekadku. ok lah gak papa, semoga itu hanya keinginan di depan aja, nggak bener bener. Aku tahu karakter Rini, dia memang menggebu gebu di depan tapi kalau di seriusin biasanya gak jadi, semoga saja.





"Dik... ok kita carikan cowok yang bersih ya.. trus harus berapa orang ? satu aja kan ?"



Istriku mengacungkan tiga jarinya sebagai jawaban atas pertanyaanku.



"Hah tiga ?!! kita coba 1 orang dulu aja gimana ? ok ?"



Istriku menekuk mukanya. Bibirnya manyun.



"Ok, dua orang aja ya?" kataku berusaha merayu.



Rini bersikeras minta 3 orang.. ini membuatku pusing tujuh keliling. 3 orang tidak main main. Aku kawatir berpengaruh di kehamilannya. kalo keguguran gimana ? Selain itu dia kan belum pernah mencoba bercinta dengan lebih dari satu orang ? apa itu namanya ? threesome ?



Karena aku tidak bisa mencarikan aku serahkan sendiri ke Rini untuk mencari. Aku menyerah... terserah dialah.. asalkan dia harus yakin kalo cowok cowok itu bersih.. selain itu aku yakin dia cuma ingin di depan aja, nggak bakalan beneran.



Semula dia tidak mau, alasannya dimana dan bagaimana mencarinya.



Tiga hari berlalu. Aku tiduran di pahanya sambil mengelus elus perutnya yang masih belum kelihatan hamilnya. Rini berkata pelan, "Mas... aku sudah dapat orangnya.. aku ajak si Andi, sama Anton aja. mas kan juga kenal kan ?"



"Lho... aku kapan itu sempat minta tolong Andi, tapi dia gak enak katanya. tapi kalo dia mau bantu ya gak papa, aku lumayan percaya sama dia. tapi kamu bener bener gak masuk kan ? aku terus terang sangat keberatan kalo terjadi coitus. Cuma gesek gesek aja kan ??"



Rini menggangguk angguk kan kepalanya. "Cuma gesek gesek klitoris aja tapi sampe aku orgasme ya mas.."



Malam harinya aku diskusi dengan Andi dan Anton.



"Aku hanya membantu saja Ron. jangan kuatir, gak bakalan masuk. aku hanya menggesekkan batangku saja. Anton juga sudah setuju dengan rencana kita. Dia juga mau sesuai syarat kok," kata Andi.



Pada hari yang telah kami sepakati, aku sudah menyiapkan tempat tidur di kamarku. Aku masih belum percaya bahwa malam ini istriku yang cantik akan membiarkan tubuh montoknya digagahi oleh lelaki yang bukan suaminya. Bahkan bukan hanya satu melainkan dua orang sekaligus. Ini adalah hari tergila sepanjang hidupku.



Rencananya aku akan duduk di sebelah Rini selama istriku tercinta itu dirangsang oleh kedua temanku. Semoga saja tidak terjadi hal hal yang tidak aku inginkan. Meski aku pernah begitu horny membayangkan istriku disetubuhi lelaki lain, kali ini sungguh aku berharap ketika cowok cowok ini sudah siap, Rini membatalkan rencananya.



Rini muncul dengan memakai black lingerie dari La Zenza. Puting susunya yang merah muda membayang di balik bra tipis, sementara stocking hitamnya yang berenda menempel lekat di pahanya yang mulus. Ahhh istriku memang cantik.... dadaku bergemuruh karena cemburu.



Andi dan Anton terpaku menatap istriku, mereka tampak sungkan dihadapanku.



"OK lalu sekarang bagaimana ?" Tanyaku memecah kebekuan.



"Ummmm... umm, kalo bisa mas jangan disini dong.. aku malu, gimana kalo mas di kamar sebelah aja. Aku gak lama kok... kan cuma menggesek gesek aja gak lebih.... Dan lagi nanti mas kan bisa melihat dari video yang mas buat," kata istriku.



" Tenang aja Ron. Nanti aku akan bener bener jaga Rini.." Kata Anton pelan.



Aku letakkan camera video di tripod di sebelah tempat tidur. Kemudian sambil berjalan ragu aku berlalu ke kamar sebelah. Sekilas aku melihat Anton menurunkan celana panjangnya.



Di kamar sebelah aku tiduran di tempat tidur dengan gelisah. Lima menit berlalu, aku mendengar suara lirih rintihan istriku yang berulang ulang.



10 menit berlalu..... Kemudian terdengar derakan tempat tidur yang bergoyang goyang, sedikit terdengar jeritan istriku... mungkin dia orgasme..



Ahh.. hatiku dibakar cemburu yang luar biasa. Kupukul dinding berkali kali karena aku menyesal mengapa menyetujui keinginan istriku. Sungguh bodoh...!!



20 menit berlalu.... mengapa mereka lama sekali ? kembali terdengar rintihan dan jeritan panjang istriku. Derakan tempat tidur terdengar bertambah keras.



30 menit... aku tambah gelisah.. mengapa lama sekali...



45 menit... suara-suara di kamar sebelah akhirnya berhenti.



Tiba tiba pintu kamarku terbuka, Rini berjalan pelan masuk menyerahkan camera video. Ia sudah mengenakan kimono, tentu saja tanpa pakaian dalam.



"Mas lihatnya nanti aja ya setelah Andi dan Anton pulang... takut kalo mas marah. Nanti malah ribut..." Rini berkata pelan sambil menyeka keringat di lehernya.



Aku lihat Anton dan Andi masih menarik celananya ke atas. Di lantai aku lihat 2 kondom terisi penuh sprema Hhhh... aku menghela nafas... kalau mereka sampai ejakulasi tentu tidak hanya sekedar menggosok klitoris...



"Ron... eeee.. tadi.. eeee maksudku begini... eeee" Anton tampak kikuk berusaha menjelaskan.



"Ok... ok... kalian pulanglah... tidak perlu dijelaskan. aku bisa lihat dari filem ini kan? thanks sudah merepotkan." Kataku dengan berjalan menuju televisi. Aku tidak sabar ingin segera menontonnya.



Mereka pun keluar. Rini menutup pintu depan lalu duduk disampingku sambil berbisik, "Mas nanti jangan marah ya... mungkin aku agak berlebihan. maklum, terbawa suasana. tapi dilihat aja dulu ya mas..."



Aku diam saja sambil menyalakan TV.



Adegan dimulai dengan Anton dan Andi melepas celana panjangnya. Terlihat istriku duduk di tempat tidur.



"Ok sekarang kita harus bagaimana Rin ??" Suara Anton terdengar tidak terlalu jelas.



"Ummm kalian tiduran aja, nanti aku duduk diatas kalian. gak papa kan ? tapi kalian diam aja lho tangan kalian jangan lari kemana mana... eh jangan lupa pake kondomnya..."



Anton mulai rebahan di tempat tidur. Istriku mulai melepas pakaiannya satu persatu hingga akhirnya ia telanjang bulat. Buah dadanya yang bulat besar tampak begitu menantang. Penis kedua temanku itu pun sudah tegang dan siap menerjang. Rini perlahan mulai menaiki tubuh Anton. Hmmm aku yakin Anton terangsang berat, terlihat batangnya sudah menjulang tinggi padahal masih belum apa apa.



Sekilas Rini memandang camera, kemudian dengan posisi woman on top tubuhnya perlahan bergoyang maju mundur. Andi duduk terdiam sambil memandang istriku.



Dadaku bergemuruh, tubuhku menggigil melihat istriku memejamkan matanya. aku cemburu karena Rini berusaha mencari kenikmatan dengan batang Anton. Goyangan Rini bertambah cepat dengan diiringi suara rintihan pendek pendek.



"Andi kamu siap siap dong??" Bisik istriku.



Kemudian tubuh istriku berpindah ke atas tubuh Andi. Terlihat batang Andi yang sangat besar, lebih besar dari milikku, lenyap ditindih istriku. Kembali Rini bergoyang di atas batang Andi, kali lebih cepat. Rintihan dari mulutnya makin keras. "Zaaahhh nikmat mas.. maaf ya mas? aaah nikmat mas.."



Tampaknya Anton dan Andi tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan luar biasa ini. Tangan mereka mulai bergentayangan ke payudara istriku yang bergoyang indah. Berulang kali Rini menepisnya, namun mereka selalu kembali menggerayangi payudara istriku itu.



Kali ini Andi turut menggerakkan tubuhnya naik turun. Kurang ajar! aku khawatir batang Andi masuk ke dalam vagina istriku.



Tubuh Rini makin bergetar. Lenguhannya makin keras. Rintihan histerisnya membuat diriku gemetar. Rini mengayunkan tubuhnya ke depan dan kebelakang menyebabkan rambut panjangnya terlempar kesana kemari. Gerakan tubuhnya makin liar.



Tiba tiba kulihat jemari Rini mengarah ke sela sela pahanya, rupanya dia ingin menggenggam batang milik Andi. Sesuatu kejadian yang tak kuduga terlihat didepan layar. Rini berusaha memasukkan batang Andi ke dalam vaginanya !!



"Ohhh.. aku nggak kuat.. please aku gak kuat.. masukin ya??" Rini merintih.



"Ahhh jangan Rin.. jangan !" Andi berusaha melarang tetapi nafsu mengalahkan suaranya. Dan batang besar Andi perlahan memasuk vagina istriku yang licin merekah. Wajah Andi tampak kebingungan dengan berkali kali menghadap ke camera seakan minta maaf bahwa itu bukan kehendaknya.



Aku panik melihat apa yang ada didepan layar, sementara Rini istriku tertunduk merasa bersalah disebelahku.



"Rin? kenapa harus masuk Rin? kamu sendiri yang janji untuk tidak coitus? gimana sih Rin?" tanyaku dalam hati sambil menahan emosi.



Aku kembali melihat ke layar. Batang Andi yang besar tampak keluar masuk dengan cepat. Sesungguhnya meskipun hatiku cemburu tapi pemandangan didepanku sangat menggairahkan. Lekuk tubuh istriku benar benar sexy dan menggairahkan. Gerakan Rini yang naik turun menyebabkan tempat tidur berderak derak. Rupanya ini yang tadi terdengar dari sebelah.



"Andi, kurang cepat.. aaahhh lebih dalam dong.. aakhh??"



Tangan Rini meremas kuat sprei. Anton yang ada disampingnya berdiri dan sepertinya berbisik ke istriku. Yang kulihat istriku hanya mengangguk angguk.



Anton berjalan mengambil kondom di meja rias kemudian perlahan berjalan ke belakang istriku. Andi masih sibuk memompa, sementara Rini lemas merebahkan tubuhnya ke dada Andi. Dengan tenang Anton mengolesi anus istriku dengan pelicin. Apa yang akan dia lakukan ?



Perlahan Anton mengarahkan batangnya ke anus istriku, sambil meremas pinggul dan pantat, dia tekan batangnya memasuki anus istriku. Gila !! aku benar benar shock melihat ini. Kulihat Rini sama sekali tidak protes bahkan wajahnya tampak menikmati.



"Aaaaa? pelan-pelan.. sakit.. pelan pelan.."



Dalam sekejap batang Anton yang tidak terlalu besar sudah masuk semua sampai ke pangkalnya. Tak lama kemudian batang Andi dan Anton bergerak mempompa bergantian.



Rintihan Rini makin keras. Lenguhan panjang dan pendek membuat kedua lelaki itu bertambah cepat bergantian mengayunkan batangnya. Vagina istriku mencengkeram erat setiap hentakan dan tarikan batang Andi. Sementara Anton berulang kali menepuk pantat istriku... sangat menggairahkan !



Aku terpesona melihat kondisi istriku saat itu. Disebelahku Rini pun terpaku melihat dirinya sendiri di layar TV. Derakan tempat tidur semakin cepat bergantian dengan jeritan pendek istriku, menahan kenikmatan. Rini mengimbangi pompaan dua pria itu dengan goyangan dan geliat pinggulnya.



Rini benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggapai kepuasannya. Bermenit-menit telah lewat, gerakan mereka tidak nampak mengendor. Aku yakin Rini mendapatkan multi orgasme. Mungkin orgasme beruntun yang sangat panjang. Dan dia belum akan berhenti. Kepalaku makin lama makin pusing melihat layar. Semuanya terasa bergoyang.



Dalam keadaan telanjang dan mengkilat karena keringatnya, istriku menggelinjang, menciumi dada berbulu Andi. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mendebarkan dan amat erotis. Tidak heran dengan cepat Anton dan Andi mengalami ejakulasi



"Rinnnn.. aku keluar !!" Teriak Anton.



Dengan cepat Andi mengikuti, "Aku jugaaaa!!!" Andi rupanya tidak mau kalah.



Tak lama kemudian kedua laki laki itu menggelepar di sebelah istriku. Dada istriku naik turun menahan nafasnya yang memburu.



"Andi, tolong masukkan lagi please.. aku belum puas.."



Andi bangkit kembali. hmmm rupanya dia masih kuat.



"Lepas kondomnya Di.. gak usah pake... panas.. ayo cepet !"



Aku terkejut, bagaimana mungkin istriku mengijinkan Andi menyetubuhinya tanpa kondom. Dengan segera Andi menghunjamkan batang raksasanya ke vagina istriku dalam dalam. Mataku mendadak kabur...



Aku memandang Rini disebelahku... "Dek... sebenarnya kamu ini nyidam apa enggak sih ? kok jadi begini ceritanya ??"



Rini masih tertunduk, "Maaf mas... maafkan aku... sebenarnya aku memang ngidamnya ingin bercinta dengan lelaki-lelaki lain, cuma takut mas gak boleh kalau aku bilang terus terang.." bisiknya.



Aku melihat kembali ke layar kaca kembali. tampak sekarang Anton memuncratkan spermanya ke mulut istriku. Kepalaku tambah pusing.



"Jadi adek benar-benar ingin bersetubuh dengan banyak lelaki sekaligus? Ok Ok sekarang panggil mereka... cepat panggil mereka lagi !! aku mau kita bercinta lagi, berempat sekaligus !! Sudah kepalang basah. Mumpung usia kehamilan adek belum masuk usia rawan ! Aku mau balas dendam karena adek udah membohongiku. Sekarang aku mau bercinta sama adek sampai pagi" teriakku pada istriku.



Istriku memandangku dengan takut, kemudian perlahan mengangkat HPnya untuk memanggil kembali Andi dan Anton yang sedang dalam perjalanan.



Kepalaku rasanya ingin pecah. Jadi istriku selama ini juga ingin bercinta rame-rame? Jadi itu sebabnya ia sering membaca situs-situs cerita seks? Jadi itu sebabnya istriku kadang terlihat sengaja memamerkan belahan dada dan selangkangannya kepada teman-temanku yang sedang berkunjung ke rumahku? Aaaaaarrrgghhhh !!!! sungguh bodoh diriku !!! Seharusnya aku tau sejak dulu !!! Kan bisa dari dulu sebelum ia hamil kuajak bertualang beneran ke dunia seks threesome, orgy, swinger dan gangbang???

KISAH ISTRIKU

Sebut saja namanya Via, istriku saat ini yang sangat aku sayangi. Via bertubuh langsing semampai dengan warna kulit kuning langsat khas wanita Indonesia, dengan ukuran dada yang tidak besar namun bulat dan padat. Wajahnya manis mirip2 seperti Maudy Koesnadi lah kalau orang bilang, dengan bibir mungil merah muda dan rambut ikal bergelombangnya.



Pada saat kami sedang bercinta, seringkali aku menanyakan sentuhan2 yang pernah dilakukan mantannya terdahulu, entah saat pertama kali ditelanjangi mantannya atau saat pertama kali menghisap kemaluan mantannya, entah kenapa hal itu membuatku semakin bersemangat untuk menggumulinya. Saat kami sedang asik bercinta, aku menanyakan apakah ada lelaki lain yang bukan mantannya yang pernah merasakan tubuhnya, dan sambil menggelinjang saat aku ciumi lehernya Via mengangguk pelan sambil bercerita, dan begini ceritanya:



Saat itu Via harus kos saat bekerja di kota J, kosnya campur antara laki2 dan perempuan dimana mayoritas adalah pekerja sekitar daerah itu. Kos tersebut berlantai 3, dan Via berada dilantai paling atas. Dilantai paling atas adalah ruang TV dimana Via biasa menghabiskan waktunya menonton TV saat teman2 kosnya sedang pulang kerumah masing2. Malam itu, saat sedang asik menonton TV di sofa, tiba2 ada lelaki yang langsung memeluknya dari belakang, sebut saja namanya Raka. Raka tinggal dilantai 2, namun sering curhat ke Via mengenai istri dan anaknya dikampung, Via cukup akrab dengan Raka, dan tidak pernah berpikir macam2 tentang dirinya. Malam itu, Via sedang merasakan kangennya pelukan dan sentuhanku, Via cukup kaget saat Raka tiba2 datang memeluknya dari belakang. Dengan sopan, Via melepaskan pelukan Raka dan berdiri menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang TV tersebut.



"Via, aku pinjam novel bacaaan donk, bosan dikamar sendirian", sahut Raka saat Via mulai beranjak ke kamar.



Tanpa basa-basi Raka menerobos masuk kekamar Via dan memilih-milih novel koleksi Via. Saat Via membuka lemari untuk mengambil beberapa novel koleksinya, dengan sigap dan perlahan Raka menutup pintu kamar Via dan duduk ditempat tidur Via yang tanpa alas (hanya spring bed dilantai) sambil pura2 memilih novel.



Tiba2 saat Via lengah, Raka menarik lengan Via sehingga Via terjatuh menindih tubuh Raka ditempat tidur. Raka memegang pelan kepala Via dan mencium bibirnya dengan lembut, Via cukup kaget namun dia tak berusaha untuk melawan atau menolak. Ciuman lembut Raka sepertinya membuat pertahanan Via agak kendur, dan dengan sekali dorong, Raka membalikkan tubuh Via sehingga berada tiduran telentang tepat dibawah Raka. Dengan lembut Raka berkata "Tenang aja Via, aku cuma mau peluk dan cium kamu aja kok, sudah lama aku suka sama kamu.."



Via hanya diam dengan jantungnya yang berdegup kencang saat Raka berbaring disampingnya lalu menggeser tubuh Via menghadap kesamping kiri sambil tiduran. Raka memeluk Via dari belakang saat tiduran menyamping dan mencium lembut tengkuknya. Via merinding saat sentuhan bibir Raka menyentuh leher dan tengkuknya, dan sambil memeluk dan menciumi leher Via, Raka berbisik "Aku tahu kamu pasti kesepian juga, kamu pernah dientot tunangan kamu kan?" Via tidak menjawab dan hanya mendesah pelan saat tangan Raka mulai mengelus perut rata Via dari luar kaos tidurnya yang tipis (saat itu Via mengenakan kaos tipis dan celana pendek).



Tangan nakal Raka pelan2 masuk kebalik kaos tipis Via dan mengelus punggung mulusnya, mencari tali pengait BH Via dan membukanya. Raka tampaknya cukup ahli dalam membuka BH, dalam hitungan menit BH Via sudah dibukanya dan secara menerawang puting Via menyembul tegak dibalik kaos tipisnya. Raka membalikkan tubuh Via hingga terlentang dan dia menindih tubuh Via dari atas sambil menciumi bibir Via yang mungil. Dibalik celana pendek ketatnya, penis Raka mulai menegang dan dengan sengaja dia arahkan ke belahan vagina Via yang masih terlindungi celana pendeknya.



Pelan2 Raka menggesekkan bagian bawahnya yang sudah tegang kebagian kemaluan Via sambil mengulum bibir Via dan pelan2 mulai menjamah payudara Via yang bulat dan mungil. Payudara kiri Via diremasnya perlahan sambil mencubit kecil puting susunya yang tegang, Via hanya mendesah saat Raka mulai turun merambati lehernya dan kedua tangannya menggenggam kedua payudaranya...



Via hanya mendesah "Raka...jangan...aku sudah punya tunangan...", namun Raka tidak peduli dan malah asik mengulum puting susu Via dari luar kaos tipisnya hingga kaosnya basah tepat diantara kedua putingnya, sehingga puting susu merah muda coklatnya tercetak jelas walau tertutupi kaos tipisnya. Raka sangat telaten saat menggumuli Via, dan anehnya dia tidak berusaha untuk membuka kaos dan celana Via dan bahkan pakaiannya sendiri, tampaknya Raka sudah cukup puas dengan menciumi, meremasi payudara, mengulum puting, dan menggesekkan bagian bawah tubuhnya kebagian kemaluan Via. Beberapa saat kemudian tiab2 Raka berdiri dan mencium kening Via, "Selamat malam, waktunya tidur....makasih sudah temani aku malam ini". Via hanya berbaring menatap Raka saat keluar kamar tidurnya, Via ingin merasakan lebih namun ia tahu, ia sudah ada yang punya. Dan malam itu Via tidur dengan bagian kemaluannya yang basah karena rangsangan lembut Raka.



Setelah kejadian malam itu, beberapa kali Raka kembali melakukannya dengan menyelinap masuk kekamar Via saat penghuni kos lainnya sedang tidur. Pernah suatu malam saat Via sedang menonton TV sambil mengenakan daster tidurnya sambil memeluk bantal kesayangannya (sebenarnya untuk menutupi dadanya yang sudah tidak pakai BH), Raka tiba2 menarik Via kekamarnya Via, menutup pintu kamarnya dengan cepat dan dengan posisi berdiri Raka menciumi bibir Via dengan nafsu sementara kedua tangannya meremas pantat Via, Via tersudut didinding kamarnya dan Raka mengangkat pantat Via sehingga bagian tengah kemaluannya bergesekkan dengan penis Raka yang tegak dibalik celana pendek ketatnya.



Dengan cepat Raka membalikkan tubuh Via menghadap tembok, menciumi tengkuk Via sambil menyibakkan rambut halus Via dan meremas kedua payudara mungil Via dari belakang.



Sambil menjilati tengkuk Via, Raka mendesah "ahhh..Via aku suka sekali ngeremas tetekmu, mungil tapi padat dan sekel putingnya..."



Ciuman dan remasan Raka semakin liar dan tiba2 tangan kanannya mengangkat bagian bawah daster Via dan masuk kedalam celana dalam Via sambil meremas pantat bulat Via. Via tercekat dan dengan spontan menahan tangan liar Raka, namun tenaganya kalah kuat dan Raka masih asik meremas pantat kanan telanjang Via sambil menciumi lehernya dan tangan kirinya meremas payudara kiri Via.



Dengan kasar tiba2 Via dituntun ketempat tidur, dibiarkan tidur telentang sementara Raka duduk dihadapannya sambil mengangkat kedua paha Via. Dia mengelus lembut vagina kemaluan Via dari luar celana dalamnya sambil mengusap lembut paha mulus Via. Dan seperti biasa, anehnya Raka hanya menggesekkan penis kerasnya dibagian kemaluan Via sambil menindih dan mengulum puting susu Via dari luar daster tipisnya. Kali ini, Raka sempat memasukkan tanggannya kebalik daster Via dan meremas serta memilin kencang puting susu kanan Via sehingga Via sedikit merintih.



Setelah beberapa lama, Raka mencium kening Via sambil mengelus kepalanya sambil berkata "aku tahu kamu takut ngentot sama aku, dan aku tahu kamu merasa bersalah dengan tunanganmu. Lagipula aku tahu kamu juga tidak mau ngentot dengan suami orang, makanya aku hanya melakukan sebatas ini hanya agar kita berdua tidak kesepian..."



Kata2 Raka membuat Via tersentuh dan sebelum keluar kamar Raka sempat mencium lembut kening Via kembali.



Siang yang panas, Via pulang setengah hari dari kantornya. Saat baru menginjakkan lantai 2, tiba2 ada tangan besar yang menarik tubuhnya masuk kedalam kamar. Ya, Raka dengan cepat menarik Via kekamarnya sebelum Via naik kelantai 3. Dan kini untuk pertama kalinya Via berada didalam kamar Raka, pria beristri yang beberapa kali menemani sepinya dengan cumbuan dan remasan lembut ditubuhnya.



Kali ini Raka seperti seseorang yang berbeda, dengan kasar dia menarik Via ketempat tidurnya, menindih tubuh Via sambil berusaha membuka kancing kemeja kerja Via. Sambil mengulum kasar bibir mungil Via, Raka membuka 3 kancing atas kemeja Via, menciumi lehernya, dan tiba2 menggigit pundak mulus Via sehingga Via meringis sambil memukul punggung Raka. Dengan cepat Raka membuka BH Via dan dengan 3 kancing atas kemeja yang terbuka, terlihat 3/4 dari payudara mungil Via yang mulus.



Karena Via terus berontak, Raka memegang kedua tangan Via sementara dia sibuk menciumi dada Via dan dengan hidungnya menyibakkan kemeja Via yang sudah terbuka kancing atasnya sambil mencari puting susunya..... Dengan usaha gigih, Raka menemukan apa yang dicarinya, ya..puting susu Via yang selama ini tidak pernah dilihatnya namun sering dipilin dan dihisapnya dari balik pakaian Via. Seperti bayi yang menemukan induknya, Raka menyedot puting susu Via dalam2 sambil sesekali meggigit daerah sekitar puting susu Via hingga merah dan memar. Via hanya menjerit kecil sambil berkata "Raka..jangan..sakit.....aku gamau"...namun Raka tidak peduli.



Setelah puas 'nyusu' dikedua puting mungil Via, dia mencium kening Via sambil berkata, "Besok aku mau pindah tugas....aku cuma mau merasakan tubuhmu sekali ini saja, aku pgn ngentot sama kamu Via..."



Dengan muka memelas Via menjawab "..jangan Raka, aku ga mau ML sama kamu....semua ini salah..cukup sampai disini saja".



Raka sedikit kecewa dengan jawaban Via dan dengan beringas dia mengikat kedua tangan Via kepojok tempat tidur dengan sabuk yang dikenakannya. "aku tahu selama ini aku egois karena hanya memikirkan diriku sendiri, biarkan hari ini aku memuaskanmu Via, aku janji gak sampai ngentot...", kata Raka ketika melihat Via ingin berteriak saat kedua tangannya diikat Raka.



Dengan perlahan Raka duduk diantara kedua kaki Via...lalu mengelus lembut kedua paha mulus Via..pelan dan semakin naik memasuki roknya. Kedua kaki Via dibentangkan lebar sementara Raka duduk ditengah diantaranya sambil menciumi perut halus Via dan memegang kedua pahanya. Dengan satu gerakan cepat, Raka meloloskan celana dalam Via dari balik roknya....dan saat itu Via merasakan sentuhan dingin angin AC merambahi kemaluannya....



Raka memandang belahan kemaluan Via yang ditumbuhi bulu halus karena Via baru saja mencukurnya beberapa hari lalu, bibir kemaluan Via berwarna coklat kemerahan merekah dengan klitoris mungil berwarna pinknya yang sudah tegang. Dengan leluasa Raka membuka rok yang dikenakan Via sehingga saat ini hanya kemeja kerja dengan 3 kancing atas terbuka saja yang dikenakan Via. Dengan perlahan Raka menciumi paha mulus Via sambil sesekali mengusapnya dengan lembut, Via hanya mendesah sambil sesekali menjambak rambut Raka entah karena kesal atau keenakan.



Raka membuka lebar2 kedua paha Via dan mulai menjilati daerah sekitar kemaluan Via yang sudah basah, sesekali Raka mengulum lembut klitoris Via yang tegang sambil menggigitnya dengan lembut. Via tak kuasa menahan birahinya dan mendesah tak karuan, hal ini tentu saja membuat Raka semakin berani dengan menjulurkan lidahnya ke lubang kemaluan Via sambil sesekali menjilatnya dengan lembut.



Via merasakan oral seks dari Raka yang luar biasa, hingga tiba2 Raka membuka celana pendeknya dan membiarkan penisnya mengacung tegak tepat dihadapan kemaluan Via. "Tidak! Raka jgn masukin, aku gamau!", sergah Via saat kepala penis besar Raka mulai menyentuh bibir kemaluannya. Via berontak, namun kedua tangan mungilnya dipegang kedua tangan besar Raka dan menekannya kesamping kanan dan kiri kepalanya.



Raka menatap wajah Via yang memelas untuk tidak disetubuhi, dan pelan2 dia mengecup kening Via...perlahan turun ke bibir dan mengulum bibir mungil Via yang indah. Raka membiarkan kepala penisnya tepat berada dibibir kemaluan Via, dan saat Via lengah terbuai oleh kecupan lembut dibibirnya, tiba2 Raka menekan keras kepala penisnya yang sudah tegang masuk kelubang kemaluan Via....."arrgggghh.....Raka...sakit......pleaseee" , Via sempat berteriak kecil namun Raka tidak peduli dan malah mengocoknya penisnya perlahan didalam lubang kemaluan Via yang sudah dipenuhi cairan kenikmatan itu!!



"Via, aku sayang kamu....sudah lama aku pgn ngentot sama kamu....sekali ini saja, sebelum aku benar2 pergi....", Via msh coba berontak namun tenaganya kalah kuat dengan Raka, dan Raka pun terus asik memompa kemaluan Via dengan penis besar hitamnya....yang kontras sekali dengan kulit Via yang kuning langsat.



"Via, aku mau liat kamu telanjang bulat...please..aku lepasin tangan kamu, tapi kamu jangan berontak ya..aku mau buka baju kamu...aku mau kita bugil bersama dan ini adalah yang pertama dan terakhir..", pinta Raka dengan sedikit memasang tampang memelas.



Pelan2 Raka melepaskan cengkramannya ditangan Via, lalu dia mencabut penisnya dari lubang kemaluan Via. Raka meminta Via yang membuka sendiri seragamnya dan berdiri dihadapannya. Via berdiri dari tempat tidur...berdiri tepat dihadapan Raka yang terduduk disamping tempat tidur...lalu Via membuka kancing seragamnya seluruhnya...dan menhempaskannya kelantai...



Via kini sudah benar2 telanjang bulat dihadapan lelaki beristri yang selama ini seharusnya hanya menemani kesendiriannya. Raka menggenggam kedua tangan Via, menciumi lembut perut rata Via dan pelan2 mulai menyusu seperti yang biasa dia lakukan saat menyelinap masuk kekamar Via malam2....kuluman lembut Raka diputing susunya membuat Via mendesah pelan...kuluman itu awalnya lembut hingga akhirnya Raka menggigit-gigit kecil puting susu mungil itu!



Raka beranjak berdiri, membalik tubuh telanjang Via menghadap dinding...sambil sedikit membungkukkan tubuh Via, lalu menyodok kemaluan Via dengan penis besarnya dari belakang....kedua tangan Raka menggenggam penuh kedua payudara bulat mungil Via....



Beberapa menit Raka mengocokan penisnya dikemaluan Via, lalu dia berbisik "kamu sudah mau sampai sayang?....aku mau memberikan kamu kepuasan..."



Via hanya mengangguk pelan sambil menggigit bibir bawahnya...dan Raka semakin cepat mengocok penisnya didalam kemaluan Via. Tubuh Via bergetar hebat dan Raka tau bahwa Via sudah merasakan orgasme yang luar biasa saat tiba2 dia mencabut penisnya dan....croootttt crootttt croootttt....menyemburkan spermanya ke pantat bulat Via yang mulus....digenggamnya sendiri penis besar itu hingga semprotan terakhir....pantat kanan Via dipenuhi cairan lengket dari penis Raka....dan Raka segera membalikkan tubuh Via, mengulum bibirnya dengan lembut sambil berbisik "terima kasih, aku sudah ga penasaran lagi....."



Via menangis dalam hati atas perbuatannya....namun disatu sisi dia merasakan sensasi bercinta dengan sedikit paksaan yang membuatnya orgasme begitu hebat.

SEBELAH KAMAR KOST KU

Ini pengalaman ketika aku masih bujang, saat itu umurku mungkin sekitar 23 tahun. Aku kost disebuah tempat yang memang diperuntukkan ahany untuk anak kost, ada sekitar 20 an kamar berjejer terdiri atas dua bangunan bertingkat 2. Penghuninya campur antara yang bujangan dan yang berkeluarga. Kebetulan kamarku ada di lantai bawah yang menurutku punya fasilitas paling komplit (maksudnya bisa jemur pakaian di belakang kamar karena ada lorong terbuka yang tersisa dibelakang bangunan yang aku tempati itu. Dari lorong ini pulalah kisah ini berawal.



Tetangga sebelah kiri dan kanan kamarku adalah pasangan yang berkeluarga. Ada bapak dan bu Evi (karena anaknya namanya Evi) keluarga dengan satu anak perempuan disebelah kiri kamarku. Dan keluarga mas Anto dan mbak Diah (begitu aku memanggil mereka) disebelah kanan kamarku, keluarga muda dengan satu anak perempuan juga yang berumur sekitar 2 tahunan. Aku tidak begitu kenal dengan tetangga lainnya karena memang sangat jarang bertemu. Umumnya mereka mengurung diri dikamar entah apa kegiatan mereka. Aku sendiri bujangan yang baru mulai bekerja pada sebuah perusahan yang cukup bonafid. Hari hariku biasanya aku habiskan pergi sama teman teman, itu sebabnya aku jarang berinteraksi dengan tetangga kostku.



Bu Evi orangnya kecil mungil, kulit hitam manis tapi punya toked yang agak berlebihan sehingga kalo lama diperhatikan seperti menantang (dasar mupeng) sedangkan mbak diah, punya perawakan sintal, kulitnya putih bersih, wajahnya juga sangat mempesona (masuk katagori cantik), ramah dan banyak senyum. Aku sendiri sering dapat senyuman nya. Nggak tahu kenapa aku sering cari kesempatan untuk bertemu muka biar kecipratan senyum manisnya. Aku sendiri cukup akrab dengan mas Anto karena kantor kami bersebelahan. Mas Anto bekerja sebagai Security. Seringkali aku diminta bantuan sama mbak Diah untuk jagain si kecil Endah kalo dia lagi sibuk dengan pekerjaan rumahnya, dan aku dengan senang hati melakukannya. Sebagai imbalan biasanya aku nitip cucian barang sepotong dua potong. Merekalah dua wanita yang menjadi topic ceritaku nanti.



Episode Mbak diah.



Pada suatu hari aku pulang malam sekitar jam 2an, aku ingat sekali itu malam minggu sehabis jalan sama teman temanku, aku bermaksud mengambil jemuran dibelakang kamar yang sore tadi dicuciin sama mbak Diah, takut kena hujan nanti bau. Aku merasa ada yang tidak biasa. Didepan pintu kamar belakang mbak Diah aku melihat sepasang sandal yang aku yakin bukan punya mas Anto. Penasaran aku balik kedepan mencari motor mas Anto, hanya ingin memastikan kalo mas Anto benar tidak dirumah karena setahuku hari itu mas Anto tugas malam. Dan benar dugaan ku motor mas Anto tidak ada di tempatnya. Segera aku berbalik lorong belakang. Aku mencoba mencari celah untuk mengintip kedalam kamar mbak Diah. Tapi usahaku sia-sia karena terhalang dinding dapur. Hanya saja aku sempat mendengar lapat lapat desahan nafas dan sayup sayup suara erangan sehingga aku yakini sedang terjadi sesuatu didalam sana. Aku kembali kekamarku menunggu ……. Dengan suasana hati yang tak menentu, aku hanya berharap tahu siapa gerangan pemilik sandal yang telah mengisi malam sepinya mbak diah. Aku tak beranjak jauh dari pintu belakang kamarku dan sengaja kubuka sedikit sehingga masih bias mengintip kea rah pintu belakang mbak Diah. 15 menit berlalu aku mendengar suara daun pintu berderit meskipun sangat pelan tapi cukup membuatku segera mengambil posisi yang telah kupersiapkan. Aku melihat sosok mbak Diah keluar kemudian melihat kiri kanan mungkin memastikan keadaan aman, setelah itu kulihat dia memberi kode kedalam maka keluarlah sesosok lelaki yang sangat aku kenal….. Pak Evi… tetangga sebelahku… aku tersurut kaget benar benar tidak menyangka dan setengah tidak percaya dengan apa yang kusaksikan. Setelah keadaan tenang aku kembali ketempat tidurku. Ada scenario dalam kepalaku. Dan aku pun tersenyum sendiri.



Keesokan harinya seperti biasa aku telat bangun, maklum hari minggu. Masih terbayang peristiwa semalam dan rencana yang telah kususun. Aku bersemangat bangun dan langsung menuju lorong belakang aku berharap ketemu mbak Diah dibelakang, tapi aku harus kecewa. tak apalah masih banyak waktu. Dan aku segera menyambar handukku masuk kamar mandi sambil bernyanyi kecil. Habis mandi aku bermaksud membuang waktu dengan duduk di beranda kamar ku ngopi dan sekalian melihat keadaan tetangga tetanggaku. Heran aku juga tidak melihat bu Evi hari itu. Selang beberapa saat kulihat mbak Diah datang, rupanya dia baru habis belanja di warung.



“Eh dik Hadi .. udah bangun ya… “ Sapa mbak diah ramah seperti biasanya.

“Iya mbak, mas Anto masih tidur?” tanyaku balik

“Iya dik, mas Anto baru pulang pagi, kan tugas malam” katanya menerangkan

“oh iya… mbak gak ada acara nyuci hari ini? Nitip doong “

“boleh, tapi ntar ya abis masak, tapi jagain Endah ya”

“Siip” kataku



Aku pun mengambil alih endah dari mbak Diah, aku setelkan dia lagu anak anak dari DVD portable ku maka endah pun bernyanyi nyanyi sendiri di kamarku. Selang beberapa lama kudengar mbak Diah memanggil lewat pintu belakangku.



“Dik Hadi… mana cuciannya?”

“itu mbak yang dibelakang, udah tak rendem dari semalem” sahutku menimpali.



Aku segera beranjak kebelakang, saatnya memulai rencana. Perlahan kudekati mbak Diah. Memberi kode agar dia mendekat. Mbak Diah menghampiriku….



“Semalam aku melihat sesuatu disini” bisikku. Sengaja membuatnya terkejut. Dan reaksinya memang seperti yang kuharapkan. Diapun lebih mendekat.

“Lihat apa?” mbak Diah ikutan berbisik.

“Ada deh.. “ godaku. Merah padam mukanya mbak Diah. Tapi dia segera menguasai diri. Dia taruh telunjuknya di atas bibir.

“Nanti aja diomongin” bisiknya lagi

“Siip” kataku sambil mengangkat jempol.



Aku memulai hayalanku ditempat tidur dengan perasaan menang, yakin akan mendapat sesuatu. Pikiranku sedemikian jauhnya sampai tak sadar aku tertidur dan lupa makan.



“tok… tok….tok…” setenagah sadar aku mendengar pintu kamarku di ketok.

Aku bangkit dari tempat tidur dan yang pertama kurasakan adalah perutku yang minta diisi. Kulirik jam bekerku, ah.. rupanya sudah jam setengah tiga, pantesan…



“tok…tok…” kembali kudengar pintuku di ketok.

Aku bergegas membuka pintu, kiranya mbak diah yang sedari tadi mengetok pintu.



“ya mbak… ada apa?” tanyaku

“ini mau nganterin makanan , tadi mbak masak lebih, mbak liat dari tadi kamu gak keluar rumah.. pasti belum makan” katanya sambil mengulurkan sepiring nasi komplit dengan lauknya.

“iya juga mbak, aku ketiduran, mas anto udah bangun?”

“udah tuh … lagi pergi sama endah kerumah temennya”

“ooh… berarti udah aman ya… “ kataku sambil mengedipkan mata

“kamu itu bikin mbak penasaran, memang liat apa semalem” katanya masih berpura pura.

“ntar aku cuci tangan dulu, tak ceritain sambil makan ya” aku bergegas menaruh makanan di meja kecil di beranda dan masuk untuk cuci tangan, kubiarkan mbak diah penasaran menungguku.

“ayo ngomong… liat apa semalem” mbak diah langsung menyerangku begitu aku muali menyantap makanan, aku hanya senyum senyum sambil ayik menghabiskan makanan ku.

“cepetan dong, ntar mas anto keburu pulang” pintanya memelas.



Akhirnya aku pun menceritakan apa yang kulihat, termasuk mengetahui siapa adanya lelaki pemilik sandal. Lama mbak diah terdiam sampai akhirnya…



“Di, kamu bisa pegang rahasia ini kan?, mbak gak mau mas anto sampai tahu, kmu pasti tahu akibatnya buat mbak” lagi lagi dia meminta dengan memelas.

“tenang aja mbak, aku bisa jaga rahasia kok. Tapi aku juga bakal minta sesiuatu dari mbak” jawabku

“kamu jangan memeras mbak ya, kamu kan tahu mbak nggak punya uang”

“aku nggak minta uang kok” selaku

“trus kamu minta apa”

“aku minta sesuatu yang mbak punya dan bisa kasi” kataku sambil memberi kode ke arah dadanya

“hah… kamu mau sama mbak?”

“knapa? Mbak nggak mau ngasih”

“Bukan gitu, mbak kan udah punya anak… emang kamu mau?”

“ah… aku kan pingin yang berpengalaman” kataku cekikikan.

“ya deh… kalo itu mbak bisa kasi, tapi jangan dipaksain ya… liat keadaan, jangan sampai mbak celaka”

“oke, aku juga pasti menjaga mbak kok.. tenang aja”

“omong omong bu evi kemana? Koq pak evi nya bisa lepas?

“ooh, biasa tiap sabtu mbak evi nginap di rumah orang tuanya karena harus gantian ama saudaranya jagain orang tuanya yang udah tua”

“itu sebabnya ya… he..he.. “

“ya … biasanya sabtu dianterin sama pak evi, minggu dijemput lagi”

“ngerti deh” kataku sambil mengejapkan mata, dan mbak diah pun tersenyum malu.

“ntar malam mas Anto shift malam lagi gak?” tanyaku

“iya… knapa? Kmu mau ntar malem?”

“kalo boleh sih…”

“liat keadaan ya.. “

“oke…”



Begitulah akhir dari transaksiku, aku tinggal menunggu hadiah yang dijanjikan tiba.



Waktu yang kutunggu pun tiba, dari balik pintu kamarku aku mendengar suara motor mas anto menjauh, dan mbak diah berdiri di beranda melepas suaminya berangkat kerja. Setelah motor gak terlihat aku keluar kamar. Mbak diah menoleh kearahku sambil berbisik..



“endah belum tidur, ntar mbak kasi kode” sambil menganggukkan kepala, aku pun mengerti. Menunggu sekitar 30 menit kudengar tembok di ketok , inilah kode nya pikirku, dan aku bergegas ke arah belakang. Aku tidak mau kecolongan seperti pak evi, jadi kudekati pintu belakangnya mbah diah tanpa sandal.. he..he… langsung kubuka pintu perlahan yang ternyata tidak terkunci. Pemandangan yang disuguh kan didalam kamar sungguh membuatku terpana, mbak diah tiduran ditempat tidur dengan mengenakan baju tidur yang amat tipis, ikatan tali dipinggangnya tak cukup menutupi dadanya yang terbuka tanpa mengenakn BH, sehingga terpampanglah belahan bukitnya yang indah. Aku sudah sering melihat belahan dadanya ketika sedang menjemur pakaian ataupu menyapu di halaman, tapi malam ini sungguh sangat menggairahkan. Mbak diah hanya tersenyum.



“sudah puas melihat ini” katanya sambil menunjuk ke arah dadanya

“mungkin aku harus memegangnya” gurauku sambil mendekat. Langsung saja kubuka bagian atas bajunya dan langsung kunikmati dada montok yang telah menantiku itu. Pelan kuremas sementara bibirku mencari cari putingnya yang lain. Aku puaskan diriku menciumi buah dada mbak diah, sementara diapun mulai merintih pelan.

“di, aku pingin liat barangmu” bisiknya disela sela pergumulan kami.

“penasaran ya?”

“mmh” tangan mbak diah langsung meluncur kearah selangkangan ku, dia berhenti ketika menggenggam pen|sku dari balik celana yang masih kupakai, digenggamnya beberapa kali , mungkin membanding bandingkan milikku dengan suaminya atau pak evi.

“kayaknya gede juga ya…” katanya

“kalo mau liat aslinya buka aja mbak, aku gak keberatan kok” kataku



Mbak diah langsung membalik posisi, dia diatas menindihku, kemudian sedikit demi sedikit menurunkan wajahnya kearah perutku. Akhirnya mencapai tonjolan selangkanganku.. dia meraba dengan halus membuatku jadi merinding dan tentu saja adek kecilku langsung melonjak, dia mulai menggenggam perlahan dan seperti sangat menikmati, perlahan disingkapnya celanaku, tanpa basa basi penisku melonjak keluar. Mbak diah tersenyum kearahku, mulai diciumnya pen|sku pertama dengan ujung hidung, kemudian berlanjut dengan bibirnya. Serasa meledak mendapat perlakuan sopan seperti itu. Perlahan bibir mbak diah terbuka, diarahkannya kepala pen|sku kemulutnya, pintar sekali dia mebuatku melayang. Sekarang pen|sku sudah sepenuhnya dalam kulumannya, terasa jilatan lidah mbak diah sesekali menyentuh ujung penisku… aku sudah lupa diri. Tiba tiba dikeluarkannya penisku dari dalam mulutnya. Ahh… aku langsung sadar kembali.



“Besar juga…” bisiknya

Aku hanya tersunyum puas dengan ucapannya.

“mbak… buka dong “

“sabar sayang, kita banyak waktu koq”

“ya mbak.. tapi aku dah mau meledak nih” mbak diah tertawa kecil mendengar kataku.

“kamu yang buka ya…” sekali lagi aku membalik posisi, kali ini mabak diah tidur dengan pemandangan indah nya.



Aku mulai membuka baju tidurnya perlahan sambil sesekali mengecup outing mbak indah yang sudah sedemikian menantangnya. Aku hanya mendengar desahan desahan yang semakin membangkitkan nafsuku dari bibir mbak diah. Sekarang yang tampak adalah tubuh tanpa sehelai benang yang siap menantiku. aku terus melanjutkan gerilya mulutku di sekujur tubuh mbak diah, tanganku mulai melepas celanaku dan langsung kulemparkan tanpa peduli jatuh dimana. Kugesekkan pen|sku diselangkangan mbak diah. Kali ini aku sengaja mengulur waktu bermaksud membuat mbak diah penasaran. Pinggul mbak diah mulai bergerak liar. Tampak dia berusaha mencarikan lobang untuk pen|sku yang kini sangat tegang.



“ayo di…. Masukin sayang, mbak udah nggak tahan”

“bantuin dong mbak” kataku pula.



Mbak diah mulai mencari penisku lagi, setelah dalam genggamannya, dia mulai mengarahkannya ke liang kenikmatannnya. Aku mengimbangi dengan melakukan sedikit penekanan. Agak susah masukknya.



“kok susah masuknya mbak”

“punyamu kegedean, mmmh … pasti nikmat nih” dia mendesis



Akhirnya dengan bantuan tangan mbak diah pen|sku mulai memasuki vag|nanya mbak diah yang hangat dan basah. Aku tidak mau terburu buru, jadi kugerakkan perlahan pen|sku dalam vag|nanya mbak diah sambil menikmati setiap gesekannya, desahan mbak diah juga memberi sensasi tersendiri. Mbak diah pun selalu memberi gerakan pinggul yang menambah kenikmatan yang kurasakan malam itu. Aku bertahan dengan gaya itu beberapa saat sampai akhirnya…



“aduh di… mbak mau keluar, kasi mbak keluar dulu ya…” katanya tanpa memberi kesempatan aku untuk menjawab, tangan mbak diah menekan pinggangku sampai seluruh pen|sku terhisap kedalam vag|nanya, dia terus meracau tak jelas, tapi aku tahu dia sedang dalam puncak puncaknya. Aku merasakan dinding vag|na mbak diah berdenyut denyut seperti mencengkram penisku kuat kuat. Aku biarkan dia menikmati sesaat sampai pegangan dipinggangku agak kendor.

“maaf ya di.. mbak gak tahan, habis penismu enak banget, vag|na mbak rasanya penuh” katanya

“gak apa mbak kan bisa di ulang”

“pasti mbak layani, mbak bikin kamu puas di, lagian pen|smu enak”



Begitulah malam itu kami melanjutkan petualangan, ternyata mbak diah type wanita yang agak hyper. Malam itu dia keluar sampai 7 kali sementara aku dapat 2 kali. Dari dia pula aku tahu kalo mas anto tidak begitu kuat di ranjang, paling hanya bisa memberinya sekali sementara mbak diah punya keinginan lebih dari itu. sedang dari pak evi katanya dia bisa dapat 2 sampai 3 kali meskipun pen|snya tidak sebesar punyaku. Aku puas malam itu dan kembali ke kamar dan tertidur pulas sampai pagi.



Episode Bu Evi.



Mungkin karena kelelahan atau terlalu puas, pagi itu aku bangun agak terlambat. Aku mandi dengan terburu buru. Dengan hanya handuk melilit tubuh aku kebelakang kamar mencari pengganti CD, tak peduli keadaan sekeliling aku ganti CD di belakang kamar.



Tiba tiba… aku mendengar suara seseorang menjerit. Rupanya bu evi baru keluar dari kamarnya dan hendak menjemur pakaian kaget melihatku telanjang. Aku juga kaget, handukku jatuh dan CD yang mau kupakai baru sebatas lutut. Lama tertegun aku lupa kalau penisku masih bergelantungan.



“maaf bu, kirain gak ada orang” kataku

“iya.. iya tapi kok gak buru buru ditutupin, mau pamer ya” wah aku tersentak dan langsung merapikan CD ku. Untung bu evi gak marah dan malah menggodaku.

“anu bu, aku kesiangan jadi gak konsen, maaf ya bu” kataku lagi

“gak apa apa, mbak juga gak nyangka dapat pemandangan gituan pagi pagi” katanya tersenyum sambil menatap ke arah penisku. Aku jadi kepingin iseng menggoda, maklum aku juga suka dengan body bu evi yang selalu mengundang terutama toketnya.

“kalo mau bukan cuma pemandangan yang bisa dinikmati, barangnya juga bisa kok”

“yee…. Udah sana ntar telat kerjanya” katanya mengingatkan. Ternyata dia gak marah, dan menurut feelingku kayaknya dia ada minat dengan penisku setelah apa yang disaksikannya. Aku bergegas masuk kamar dan cepat cepat berpakaian sekenanya, sebelum berangkat aku mencoba mengisengi bu evi sekali lagi.

“ntar dilanjutkan ya mbak (aku mulai memanggil mbak)” kataku sambil melongokkan kepala dari pintu kamarku.

“hus cepat kerja sana… “ bu evi memonyongkan bibirnya sambil tersenyum manis dan menurutku itu sangat menggoda.



Aku gak konsentrasi di tempat kerja, bayangan godaan bu evi gak bisa lepas dari otakku. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, aku minta ijin bosku untuk pulang dengan alasan nggak enak badan. Aku hanya ingin segera menyelesaikan urusanku dengan bu evi.



Memasuki rumah kost, yang pertama kucari adalah motor pak evi, meskipun aku tahu dia biasa kerja pagi tapi aku harus memastikan. Yakin aman, aku masuk kamar dan langsung membuka pintu belakangku. Sepi…. Jam jam segini orang sedang kerja, kalaupun dirumah paling mengurung diri dikamar, Mbak diah pasti masih ngurus suaminya yang baru bangun habis kerja malam.



Aku melangkah kepintu belakang bu evi, perlahan ku ketok pintunya. Dan aku juga sudah menyiapkan alasan jika hal yang tidak diinginkan terjadi.



Pada ketukan kedua aku mendengar langkah kaki mendekati pintu.

“Ada apa dik hadi” tanya bu evi dengan tersenyum.

“itu…. mau melanjutkan yang tadi” kataku

“kamu nekat ya… pasti bolos ya… “ cecarnya tapi dengan suara berbisik

“kan udah janji” aku menyahut bodo bodohan.

“kamu serius?”

“ya.. iyalah, masak nggak” aku udah kepalang menjawab Bu evi memperhatikan sekeliling.

“masuk sini, nanti diliat orang” katanya. Aku berjingkrak gembira. Ternyata apa yang aku pikirkan tidak meleset. Bu evi memberi jalan kepadaku.

“ssst… jangan keras keras, evi lagi tidur” bisiknya “kamu mau apa?”

“kan mbak udah ngerti… masak dijelasin lagi” kataku nyengir Lama bu evi terdiam. Tapi akhirnya dia tersenyum lagi. “rahasia kita berdua ya… jangan sampai orang lain tahu” katanya

“iya lah mbak … masak aku mau bikin perkara”

“sama ingat… ini cumin buat senang senang saja, tidak ada perasaan. Aku nggak mau dipaksa paksa ya..”

“ya mbak, saya setuju”



Dengan demikian mulailah petualangan baru dengan bu evi hari itu. Sejak lama aku mengagumi toket bu evi ini, maka tak kusia siakan hari itu untuk menikmati sepuasnya. Aku menyusu seperti anak kecil hanya bedanya diiringi dengan desahan desahan kecil bu evi. Tubuh hitam manis itu sudah ku miliki sekarang . aku membenamkan wajah ku di belahan toket bu evi. Kunikmati aromanya, aku sangat bergairah. Begitupula bu evi. Kami telah telanjang bulat dan aku bersiap mencari akhir dari permainan ini. Genjotan ku selalu mendapat perlawanan dahsyat. Bu evi bertahan cukup lama, beda dengan mbak diah. Lubang tempenya lebih lengket tidak terlalu banyak cairan. Yang lebih dari tempe bu evi ini adalah aku merasa penisku susah dicabut ada yang menyedot dari dalam, dan senyum bu evi pun tak henti hentinya terpampang.



“aku diatas ya..” tiba tiba dia menghentikan gerakanku. Dan tanpa menungggu persetujuanku dia berguling, dengan posisi diatas dia mulai mengatur rithme genjotan. “kamu diam saja, nikmati saja ya” katanya dan akupun hanya mengangguk.



Bu evi mulai dengan gayanya sendiri, kakiku diluruskannya dan meninggalkan penisku tegak, perlahan dia mengangkangi penisku. Dengan bantuan tangannya dimaukkannya penisku kedalam vaginanya, pelan tapi habis sampai ke pangkal. Dia mendesah. Aku merasa ujung penisku ada yang mengganjal. Mungkin mentok. Kembali bu evi tersenyum.



Dia mulai bergerak naik turun. Aku dapat memandangi seluruh tubuhnya sekarang. Toket besarnya ikut naik turun mengikuti irama gerakan pantatnya. Hanya beberapa menit aku bertahan seperti itu. Aku merasa peniku panas dan terasa laharku sebentar lagi akan menyembur.



“mbak… aku udah mau keluar” aku memperingatkan.

“iya sayang aku juga mau… kita sama sama ya…” nafas bu evi mulai memburu, dia mempercepat gerakannya, dan aku berusaha menahan sekuat tenaga agar tidak muncrat duluan. Aku ingin member kesan bahwa aku tidak kalah dari dia. Aku kaget ketika bu evi menghempaskan tubuhnya keatas dadaku sambil berkata.. “aku keluar….. aku keluar… “ didiringi dengan dekapan yang sangat erat dia mengejang beberapa kali.

Dan aku berniat segera menyusulnya. “mbak … aku keluar” aku bermaksud mencabut penisku tapi dia menahanku.

“lepaskan didalam saja sayang … aku mau merasakan kehangatan sperma kamu” katanya

Kutarik wajah bu evi, dan aku melumat bibirnya, sementara penisku mulai memuntahkan isinya dalam tempe bu evi. Dia benar benar tahu apa yang harus dilakukan. Dia memutar pantatnya seperti hendak menguras habis isi penisku.



Aku tersenyum puas. “makasih mbak… mbak hebat sekali”

“kamu juga hebat sayang… kamu memberiku kepuasan yang berbeda hari ini, lain kali mbak boleh minta kan?”

“ dengan senang hati mbak” jawabku sambil member kecupan dibibirnya. Aku mengakhiri hari itu dengan senyuman, dan beristirahat dengan lelap. Aku bermimpi membawa kedua wanita tetanggaku kedalam kamarku dan kami main bertiga.



Aku jalani kehidupan seks dengan dua wanita tetangga sekitar satu tahunan lebih, dalam seminggu aku bias bermain 3 sampai empat kali. Jadwal yang baik mebuat mereka tidak tahu satu sama lain kalau aku mengencani mereka berdua. Mbak diah yang putih, cantik dan hyper memberiku kebanggaan sebagai lelaki karena dia sering memberiku pujian atas permainanku. Sedangkan bu evi selalu memberiku kenikmatan lebih saat kami bercinta, tempenya yang hangat dan kering serta sedotannya tidak ku dapat dari wanita manapun.



Satu persatu mereka pindah dari tempat kost yang banyak memberi kenangan. Keluarga bu evi pindah terlebih dahulu karena membeli rumah saudaranya dengan harga murah dan sekarang tinggal lebih dekat dengan keluarganya. Sedangkan keluarga mbak diah menyusul dua bulan berikutnya karena mas anto membeli rumah disebuah komplek perumahan. Namun demikian kami masih tetap berkomumikasi dan sesekali melakukan pertemuan diam diam dan melanjutkan petualangan kami. Hanya saja tidak bisa sesering ketika masih bertetangga.



Sekian dulu ya kawan ceritaku, lain kali aku juga pingin cerita tentang petualangan lanjutan baik dengan bu evi ataupun mbak diah yang kayaknya seru untuk diceritakan. Aku tutup cerita ini karena tanganku sudah pegal……….



End

AKU ISTRI YANG NAKAL

Usia perkawinan kami menjelang 10 tahun, untuk menghindari kejenuhan biasanya kami refreshing dengan menginap di ubud. Anak anak ditinggal di Surabaya karena mereka juga sudah cukup besar. 2-3 hari suami cuti sudah cukup mencharge ulang hubungan percintaan kami. Kali ini kami berdua kembali menginap di ubud bali. Kamar yang kami dapat sungguh luar biasa karena berada di puncak bukit dengan kaca yang terbuka di sekeliling kamar. Pemandangan yang luar biasa terhampar di depan mata. Bercinta di tempat seperti ini sungguh menggairahkan. Belum lagi acara di malam hari yang diadakan oleh pihak hotel, sungguh menarik. Dimulai dari pementasan tari bali yang indah, acara makan malam yang romantic dan diakhiri dengan melepaskan kepenatan di diskotik yang mulai dibuka pukul 10 malam sampai pagi.



Sengaja aku memakai pakaian yang mengundang, rok mini sexy yang melekat erat di tubuhku dengan belahan dada yang sangat terbuka menyembulkan buah dadaku yang montok. Suamiku tidak keberatan bahkan menikmati ketika para mata lelaki melihatku dengan pandangan nafsu.



“Rin..lihat cowok di ujung itu, matanya tidak lepas dari tubuhmu…heheheh” suamiku berbisik sambil senyum senyum bangga.



“mas nggak cemburu, Rini dilihat sama cowok cowok itu…” bisikku sambil memeluk pinggangnya.



“hmmmm…rasa bangganya memiliki kamu mengalahkan cemburuku…sayang…eh coba Rin mereka kamu goda…ajak kenalan gitu…aku pengen tahu sejauh mana keberanian mereka.” Suamiku mencoba bermain api.



“Eh…jangan mas..!” Bisikku “ Kalo kebablasan gimana hayo…”



“hahahaha nggak papa sekali kali ngedate ama cowok lain gak papa asal nggak keterusan…” Suamiku tersenyum senyum.



Aku sempat berkenalan dengan beberapa pemuda menarik, mereka ganteng ganteng juga. Andi, Budi, …hmmm cowok cowok brondong yang menggairahkan. Suasana yang mulai menghangat membuatku berpikir untuk mencoba sedikit nakal. Dari dulu aku mempunyai fantasi threesome atau gang bang… mungkin tidak ada salahnya dicoba, mumpung suamiku sedikit memberi keleluasaan. Dan sepertinya sangat menggairahkan, bercinta dengan orang lain disaat suami ada di dekat kita. Hmmm tapi bagaimana caranya..?



Aku biarkan suasana mengalir , lebih panas, lebih menggairahkan, dan mereka mulai berani memelukku. Bahkan Andi sempat meremas payudaraku. Kucari suamiku ternyata dia mabuk di pojok. Aku lebih berani untuk mengundang mereka dan mengutarakan keinginanku dan ternyata mereka antusias sekali. Tentu saja… bercinta gratis dengan istri orang, masih sexy lagi… hm..hmmm..hmm.. Cuma aku harus berpikir bagaimana caranya agar suamiku tidak tahu…Timbul ide bagus di benakku.



"Rin…dimana kamu ingin making love ? suamimu kan menempel kamu terus tuh..” Bisik Andi.



“Tenang… gw bisa kasih obat tidur.. kita nanti main di sampingnya…ok ? “ Kataku tersenyum.



“Hoho..kamu nakal sekali Rin… ML disamping suami…? ” Tawa Andi.



Seperti yang sudah aku rencanakan, suamiku ketika masuk kamar sudah dalam keadaan mabuk. Aku beri sedikit dosis rendah obat tidur di minumannya, membuatnya terlelap dengan cepat. Rencana nakalku berhasil, dengan cepat aku buka pintu kamar hotel dimana Andi sudah menunggu.



“ Rin…aku ajak Budi ya…supaya lebih seru..gimana” Tanya Andi.



Hmmm aku sungguh tidak keberatan, karena seperti yang sudah aku jelaskan bahwa threesome salah satu fantasi liarku. Aku mempunyai fantasi seks yang cukup liar dimulai dari threesome dan bondage. Memang belum ada salah satupun fantasi yang terealisasi tapi aku sudah memutuskan di bali ini semua harus terlaksana, terutama bondage…entah terkadang aku menikmati kalau suamiku bercinta dengan sedikit kasar, sedikit ganas… sungguh berbeda…entah..



Sebelum menutup pintu Andi sudah memelukku erat dan meremas pantatku. “ hmmmm sekel banget pantatmu Rin…kamu sexy sekali. “ Bisik Andi sambil melumat bibirku. Sementara Budi hanya tersenyum sambil melepas kemejanya. Aku memang menyukai sex singkat. Session pertama harus cepat, session kedua baru santai.



“Rin bener neeeh suamimu gak bangun…hehehe asyik banget dong bercinta di samping suami yang ketiduran…bisa aja idemu…lebih merangsang ya Rin ? “ Tanya Rudi, kini tubuhnya sudah sepenuhnya bugil. terlihat batangnya yang sungguh menarik. Tidak terlalu panjang tapi diameternya mantap, yang penting beda dengan milik suamiku. Ukuran tidak terlalu penting.



Tangan Andi sudah menyelusup ke balik bra ku dan meremas lembut, sementara Budi sibuk menciumi paha…hmmm geli geli enak… Andi menghempaskan tubuhku di samping suamiku yang tertidur nyenyak, dengan cepat melumat buah dada kiriku yang kini terbuka lebar. Budi tidak mau kalah dengan merebahkan badannya di samping kanan tepat di sebelah suamiku, juga sibuk melumat buah dada kananku. Wow..wow..wow.. sungguh menggetarkan, dadaku bergemuruh mendapatkan perlakuan seperti ini.



“ Rin…jantungmu kok keras banget berdetaknya…. gue jadi ngeri “ Bisik Budi sambil sibuk menggigit gigit telingaku.



“ hei guys…. gue belum pernah tidur sama cowok lain… langsung threesome lagi !…kalian beruntung banget… ngerti nggak…” protesku.



“Baru pertama kali !? “ Budi terkaget kaget, Andi sampai harus melepas kuluman bibirnya dari putting dadaku.



“Huuussss… ngapain dilepas..” tanganku menarik kepala Andi dan membenamkannya kembali ke payudaraku.



Sambil tersenyum nakal, lidah Budi menari nari dari perut ke bawah dan makin ke bawah.



“Tenang Rin…kamu bakal puas dan nggak akan melupakan pengalaman pertamamu…ok ?”





Gilaaaa jilatan Budi lebih canggih dari suamiku. Nafasku mulai tersengal sengal. Aku sungguh tidak menduga kalau kenikmatannya melebihi ekspetasiku. Tiba tiba aku merasa benda tumpul menyelusup penuh ke miss V ku… ups enaaakk..tapi…



” Bud !! pake kondom !! gue gak mau tanpa kondom ! ok ? tarik lagi..! jangan merusak mood ku..”kataku tegas.



“Sorry…sorry Rin…ok ambil dulu. “Sambil berjingkat Budi mengambil kondom di saku celana jeansnya.



“Kalo gitu gue dulu..hehe” Andi yang memasang kondomnya dengan buru buru segera memposisikan batangnya ke hadapan miss V ku, dan dengan tidak menunggu lama segera menghunjamkan dalam dalam…uuuffff.. sekali lagi nikmat.!!



Budi yang tidak jadi mengambil kondomnya segera mengarahkan batangnya ke mulutku. Ahhh threesome memang nikmat….Andi mengocok lebih cepat kali ini, , kulirik suamiku yang meskipun tempat tidur berguncang keras, dia sama sekali tidak terganggu. Memang bercinta di depan suami yang tertidur memberi sensasi yang berbeda. Getaran yang lain dari yang lain, antara takut ketahuan, kenikmatan tiada tara bercampur menjadi satu… hehe gue nakal banget ya…



“Gantian dong…” rintihku, aku ingin disetubuhi bergantian kali ini.



“Gimana Rin? nikmat Rin? enak Rin? ahhhh kamu sexy sekali… kamu nakal sekali “ Kata Andy sambil menepuk keras pantatku. Batangnya makin kencang menghajar miss V ku.



“Tepuk lagi dooong… please… yang agak keras… ahhh!” Rintihku.



“Lebih keras !! Andi.. please…. gigit punggungku… please ahhhh…” teriakku.



Plak ! tiba tiba Budi menampar pelan pipiku, tangannya segera menjambak rambutku dan menariknya ke atas. Kepalaku yang mendongak ke atas membuat mulutku terbuka lebar, dengan cepat Budi mengisinya dengan batang mantapnya. Ufffff… gue sampe kesedak tapi nikmat… batang Budi tidak panjang tapi diameternya 1,5 kali milik suamiku. Aku lebih suka yang begini, kalau terlalu panjang malah nggak nyaman karena terlalu mentok. Hmmm…baunya khas… beda dengan milik suamiku. Sengaja aku gigit gigit karena gemas. Gila…ada juga batang yang sexy kaya begini. Nggak bosan aku menjilatinya. Kocokanku dan lumatan bibirku membuat keluar cairan bening di ujung batangnya…. hmm mulai terangsang neeehh..



“Sepertinya kamu suka bondage Rin…gimana kali kita coba juga ok ? mau ?”



Tanpa menunggu jawabanku Andi sibuk merobek robek gaun tipisku menjadi tali. Kalo nikmat begini kenapa harus menolak.



“Terserah kalian… yang penting gue pengen puas malem ini ! Ayo… Bud.. jangan berhenti please !” Teriakku histeris saking nikmatnya.



“Ayo Rin aku ikat tanganmu ya… jangan kuatir nggak terlalu keras kok… pengen posisi nungging atau gimana ?” tanya Andi sambil mengikat lembut tanganku ke besi tempat tidu. Lidahnya menari nari kadang di leherku, buah dadaku membuatku kegelian.



“Nungging please Bud.. please… masukkan dalam dalam ya… janji lho…. yang keras pokoknya… siksa aku please perkosa aku please…. ayoooo..” rintihku



Posisiku benar benar menggairahkan. Menungging dengan kedua kaki dan tangan terikat di tempat tidur, sementara suamiku menggeletak tertidur dengan nyenyak. Bisa kalian bayangkan… sexy bukan ?



Andi benar benar tidak membuang waktu, posisi yang menungging membuat batangnya menghunjam penuh dalam dalam. Kedua tangannya dengan keras menarik pinggangku agar batangnya masuk seluruhnya. Deritan tempat tidur besi membuat suasana lebih menggairahkan. Badanku terasa bergetar hebat… menjelang orgasme… uhhhh… kedua pahaku terasa kaku. Aku pejamkan mataku, sementara Andi makin mempercepat hentakannya.



“Ahhhh !!! aahhh!!” Andi ternyata ejakulasi terlebih dahulu. Batangnya terasa berdenyut denyut.



“Gantian cepet…aku belum nyampe…cepet!” Teriakku.



Sigap sekali Budi mengganti posisi Andi, karena tahu aku menjelang orgasme, Budi tidak mengurangi ritme hentakan yang sudah dibangun oleh Andi. Luar biasa nikmat sekali. Mataku terasa gelap… ohhhhhhh aku… aku orgasmeeee..!!! Denyutan vaginaku bertambah cepat.



Tiba tiba suami mengerang pelan disebelahku ! kami terdiam terpaku….ups !! mungkin suamiku terganggu gara gara tempat tidur terlalu bergoyang keras. Aku gosok gosok pelan punggungnya agar tertidur lagi… hihihi gue bener bener nakal ya. Budi tersenyum senyum sambil mengocok pelan batangnya di vaginaku.



Agar aman, Budi menurunkan ritmenya, kali ini dia ingin menikmati persetubuhan ini. Sementara tubuhku lemas sekali, tetapi karena kondisi terikat tubuhku tidak bisa bergerak leluasa. Tiba tiba terasa batang Andi mengganti posisi batang Budi…uhhhh kok lebih enak ya… Mataku masih terpejam menikmati.



“Kok kamu lagi sih An…Budi kan belum keluar…kasihan dong” Kataku pelan.



Tidak sampai 5 menit, Andi sudah mengerang keras hmmm sudah dua kali dia ejakulasi. Aku masih memjamkan mata menikmati. Budi kembali menghunjamkan batangnya tetapi kali ini tangannya meremas rambutku..uhhhh ..



“hmmm batang kalian kok lebih enak sihh…kok lain…?” Bisikku.



Penasaran aku buka mataku menoleh ke belakang..hah !! Ada beberapa laki laki lain masuk kedalam kamarku ?! Mereka semua sibuk mengocok batangnya masing masing



“Andiii! Apa apan ini !!..” Teriakku.



“Tenang …tenang..Rin…kenalkan ini Robert..” Kata Andi sambil menunjuk laki laki yang tengah menyetubuhiku dari belakang. “Dan yang sebelumnya tadi, kenalkan Doni…”



“Kami berenam sekarang, kamu nggak keberatan kan dipuaskan oleh 6 laki laki ? Fantasimu bakal terpenuhi Rin”…Kata Andi kalem..



“Aaaaah jangan begitu dong… gue ngeri… aduuuhhh gimana sih….” Aku mulai panik. Ngeri juga kalo digilir banyak cowok begini meski aku pernah berfantasi gila gilaan digilir puluhan cowok. Tapi apa harus malam ini… rasanya aku belum siap… Dan lagi kalo suamiku tiba tiba bangun terus melihat aku lagi disetubuhi habis habisan gimana hayo…. aduhhh tapi batang Robert yang mengaduk aduk vaginaku sungguh enak..



Aku kembali meracau “lebih cepaaaat…lebih cepat….uhhhh…ayooo…”



Robert mengayun pinggangnya lebih kuat membuat pantatku berbunyi keras kena hempasan pahanya. Robert cepat mengerang, dan didalam vaginaku terasa ada cairan mengalir… kurang ajar ! rupanya mereka tidak memakai kondom.



“Hei ! pakai kondomnya dong..! eh kok kalian tambah banyak ?” Aku protes berat karena kuatir juga kalo mereka nggak bersih dan mengapa sekarang ada 15 cowok ?



“Rin kalo pake kondom dengan 15 cowok begini kamu bakal lecet, mending tanpa kondom deh, aku jamin temen temen bersih kok. Mereka semua masih perjaka loh…bayangin kamu merawanin 13 perjaka… asyik kan ?” Andi sibuk promosi.



“nggak mau ! Andi please jangan dong… jangan masukin sperma kalian ke tubuhku…… pake kondom dong please…pokoknya jangan masukkan sperma kalian…please”



“Rin… mereka kan masih perjaka… dijamin gak sampe 5 menit semburatlah… ok ? tapi oklah kita semua pake kondom….ok guys !! setuju ?” kata Andi ke mereka.



Tanpa menunggu jawabanku lagi, mereka langsung menggilirku habis habisan. Aku hanya bisa pasrah nikmat ketika batang batang mereka bergantian menyetubuhiku. Memang benar rata rata cuma 3 menit… tapi masalahnya mereka tidak berhenti di ronde pertama, istirahat 5 menit sudah recovery lagi, artinya masing masing cowok rata rata 3 kali menyetubuhiku… sama saja, rasanya bibir vaginaku menebal. Tapi terus terang saja aku mengalami multi orgasme.



Aku benar benar kelelahan ketika Andi mencoba memasukkan batangnya ke anusku.



“Andi please jangan dong… gue belum pernah…” rengekku. Tapi Andi tidak menghentikan usahanya. Gila anak ini…



“Please jangan dong..” rengekku lagi.



“Hmmm.. Rin kamu bilang tadi pengen coba bondage… nanggung dong kalo cuma begitu aja, gue masukin ya…pokoknya gue masukin deh.. loe nangis gue nggak perduli, pokoknya kita semua menikmati tubuhmu sepuas puasnya…bukankah itu yang kamu minta Rin ? ” Kata Andi mulai kasar.



Andi mulai menekan batangnya ke anusku… duuuhhh perih banget ! Sementara Robert, Doni, Agung dan cowok cowok lain mengocok batangnya di wajahku sambil sesekali memukulkannya ke wajahku. Agung bahkan memaksa aku melumat batangnya. sementara batang Andi mulai masuk makin dalam…



“jangan keluarkan sperma kalian di wajahku ok ? gue nggak mau… ok ?” Pintaku memelas…



Aku memang menikmati digilir tapi tidak untuk merasakan sperma mereka, bagiku hanya sperma suamiku yang boleh masuk ke dalam tubuhku. Tadi aku kecolongan si Robert, kurang ajar banget..!!



“Ayo Rin ! nikmati ! ini yang kamu minta bukan ?!” Andi mulai menggoyangkan batangnya perlahan. Aku belum pernah anal, dan memang ternyata cukup menyakitkan. Tetapi karena sudah terlanjur basah aku harus bisa menikmatinya. Ahhh ternyata masuk depan belakang ini memang nikmat… gila nikmat banget.



“Rin sekarang teman teman ingin mengisi vaginamu dengan sperma mereka bagaimana ….mau kan…?” Tanya Andi.



“Jangan Di… gue udah bilang jangan… udah nikmati aja… kenapa sih harus masukin sperma kalian… becek.. nggak enak…” Rengekku.



“Hmmmm, tapi kamu tidak ada pilihan lain bukan kalau kami paksa….” Senyum culas Andi mengembang.



“Ayolah Rin…. Cuma 15 cowok kok…. udah gini aja, mereka nggak usah coitus lagi, tadi kan udah.. kali ini cuma onani didepan vaginamu, trus vagina elo gue buka lebar lebar agar sperma mereka masuk semua… ok ? Mereka penasaran neeeh… sperma 15 cowok muat nggak ke dalam satu vagina… ok ya Rin…” Rayu Andi.



“Duuuhhh Di.. please gue nggak bisa nikmatin… dan lagi sprei jadi basah semua dong… kalo suami gue bangun gimana dong lihat sperma berceceran… ayolah plesase bukain ikatan gue ya… udah puas semua kan ? Dan lagi suami gue bentar lagi bangun, gue gak sempat bersih bersih dong”



Gue kuatir juga kalo mereka melaksanakan aksinya. Terus terang gak siap deh kalo vagina gue di isi sprema mereka…gila apa !



Tapi dasar mereka cowok bandel, tangan tangan mereka sudah sibuk mengocok masing masing batangnya. Arrrghhh !! gue bener bener sebel … hhhh tangan dan kaki gue bener bener terikat, mati kutu sama sekali tidak bisa bergerak. Sementara Jemari Andi sibuk mengobok obok vaginaku… aduh.. diapain sih punya gue…! Budi mulai mendekatkan batangnya ke vaginaku dan…. ahhh kurang ajar…! Spermanya dicrotkan keras keras, tentu saja langsung masuk karena bibir vaginaku dibuka lebar oleh jari jari Andi..



Doni mengikuti dari belakang… diikuti Rudi, Robert, Syuman dan aaahhh… sungguh kurang ajar mereka.



“Rin…coba lihat…terisi penuh kan…semua bisa masuk lohhh…” Andi tersenyum senyum.



“Di… coba gue masukin batang gue… luber nggak hahahaha” Robert segera menghunjamkan batangnya, tentu saja sprema di dalamnya muncrat keluar kena tekanan dari luar…



“Ok .. Rin gimana kalo kamu kami biarkan terikat begini… surprise untuk suamimu… ok ? hehehe”



“Andi..jangan dong please…lepasin dong ikatan gue…please..” Aku mulai panik.



“Nggak mau…biar suamimu tahu kalo kamu nakal…ok ? kami pergi thanks honey….” Andi menepuk nepuk pipiku.



“Arggghhh bangsat..!! Andi !! lepasin gue dong… gue teriak neeeh !!!” Ancam ku.



“Ups !!! kalo gitu mulut kamu perlu ditutup sayang…” Tangan andi mengambil sobekan kain bajuku untuk menyumpal mulutku… ahhhh kurang ajar !!!



Mereka menutup pintu dan membiarkan aku terikat, aduhhh bagaimana kalau suamiku bangun nanti…!! Aduhhh gimana alasanku nanti ? mataku jadi gelap…

CLEANING SERVIS KANTOR KU

Peluang kadang-kadang datangnya tidak bisa diduga. Aku sudah lebih dari 10 tahun bekerja di kantor ini, tapi baru saja aku menemukan peluang yang sama sekali tidak aku sangka.



Ceritanya begini. Sejak anakku masuk SMP, aku terpaksa mengantar sendiri dia kesekolah pagi-pagi. Sekolahnya lumayan jauh dari rumah, berjarak sekitar 45 menit. Aku setiap hari harus bangun pagi sekali agar aku bisa sampai ke sekolah anakku sekitar jam 7 kurang 10, karena sekolah dimulai jam 7 tepat. Dari mengantar sekolah aku tidak mungkin lagi kembali ke rumah, karena aku harus sampai di kantor jam 9. Jarak sekolah dengan kantorku sekitar 10 menit perjalanan. Jadi setiap pagi aku sudah berada di kantor jam 7 pagi. Kantorku menempati gedung bertingkat.



Setiap aku sampai kantor, yang pertama aku lakukan adalah buang air kecil. Kebiasaanku setiap hari meminum air putih sekitar 1,5 liter pada saat menjelang berangkat dari rumah, sehingga sesampai di kantor aku sangat tersesak kencing. Ini aku lakukan merupakan terapi air putih untuk kesehatan.



Sering kali ketika aku akan kencing, wc sedang dibersihkan oleh petugas cleaning service. Biasanya aku tahan sebentar sambil menunggu wc rampung dibersihkan. Masalahnya yang membersihkan petugas cleaning servicenya adalah cewek, jadi aku agak segan juga.



Suatu hari aku sudah sangat tersesak kencing. Rasanya menunggu Yani, begitu nama petugas cleaning service, merampung kerjanya tidak mungkin. Aku akhirnya menerobos saja lalu membuka celana dan langsung memancurkan air yang menyesak akan keluar. Pada saat itu Yani sedang mengepel lantai di bagian ujung WC sehingga dia tidak sempat keluar. Sebab jika keluar harus melalui tempatku berdiri. Maklum WCnya tidak terlalu luas. Aku berpikir, toh dia tidak bisa melihat karena posisinya agak dibelakangku. Seandainya ada orang juga kencing di sebelahku juga nggak bakal bisa melihat. Masalahnya nggak enak saja kencing sementara disitu ada cewe.



Yani sudah lama aku kenal. Dia sering aku mintai tolong untuk membeli makan siang di warung yang banyak terdapat di depan gedung. Tentu saja ada ongkos aku berikan, yang kadang-kadang ongkosnya sama atau kalau dibulatkan menjadi lebih besar dari harga pesananku. Jadinya dia memang akrab denganku. Yani umurnya masih sekitar 18 tahun. Dia drop out dari SMA kelas 2. Jika mengenakan seragam cleaning service, dia tidak terlihat sexy, tetapi jika memakai jeans dan kaus, kelihatan pahanya yang gempal dan susunya yang menggembung.



“Sorry ya yan gue nggak tahan kebelet banget nih,” kataku. “Ah gak pa pa pak , nggak kelihatan kok,” katanya. “Ah kelihatan juga nggak apa-apa juga,” kataku menggoda sambil melampiaskan kencingku yang sangat mendesak. “Ih Bapak genit ah, “katanya sambil terus membersihkan lantai. “udah pernah liat apa belum,” tanyaku menggoda lagi. “Aslinya ya belum lah pak, kalau di film sudah beberapa kali. “Sini deh kalau pengen liat, yang asli,” kataku. “Ah bapak ….., saya malu ah,” katanya. “Lho yang malu emang harusnya siapa, kamu kok jadi kebalik.” kataku. “Emang Bapak gak malu,” jawabnya sambil mendekat.



Rupanya ada juga keinginan dia melihat wujud asli alat paling rahasia seorang pria. “Ih kok kecil ya pak, di film-film kayaknya gede banget,” kata yani sambil mengintai barangku dari samping. “Ya iyalah, yang difilm itu kan barangnya orang bule dan negro yang badannya gede, lagian barangnya kan siap tempur, lha ini dia lagi males karena sedang mancur dan lagi orang Indonesia kan gak segede orang barat,” kataku. “ O gitu ya pak,” katanya Pembicaraan singkat itu membuat barangku pelan-pelan memuai.



Aku kencing memang cukup lama karena yang dikeluarkan rasanya memang banyak sekali. Yani masih memperhatikan barangku. Dia tidak malu-malu lagi karena dia mengambil posisi yang lebih jelas untuk melihat. Setelah semua keluar aku mencuci ujung penisku dengan air yang mancur keluar dari toilet. Yani masih antusias melihat barangku. “Bentuknya lucu pak, kaya pakai topi,” katanya. “Kalau mau pegang, boleh kok, pegang aja.” Kataku.



Yani tidak punya keberanian menjangkau barangku. Ku pegang tangannya dan kubimbing ke arah penisku. Mulanya dia malu sehingga tangannya agak dikakukan, tetapi karena aku tarik terus akhirnya dia melemas. Tangannya kubekapkan ke penisku yang sudah berdiri sempurna. Kuremas tangannya agar dia juga meremas barangku. Dia meremas dan aku merasakan nikmat. “ Idih kok keras dan anget gini sih Pak,” katanya. Aku tidak menjawab karena menikmati sensasi remasan Yani. “Udah ah pak nanti saya gak kerja-kerja,” katanya mengakhiri remasan di penisku.



Aku pun menutup resleting dan keluar wc menuju meja kerjaku. Sepagi ini belum ada pegawai yang datang. Aku puas menikmati sensasi pagi. Sambil menunggu pegawai lainnya datang, aku browsing di internet sambil berkhayal untuk lebih jauh dengan Yani. Dalam benakku berkecamuk, dia cleaning service, sementara aku dikantor ini cukup punya jabatan yang terpandang. Kalau misalnya aku ada affair dengan Yanti lalu terbongkar, wah malunya bukan main. Tapi dibalik itu, Yanti cukup menarik. Sejauh ini sudah lebih mudah mengolahnya untuk tindak lanjut. Wah gimana ya aku bingung juga. Seandainya saja dia bukan bekerja sebagai cleaning service di gedung tempat kantorku berada, aku pasti tidak pikir panjang mengarapnya.



Hari berikutnya aku datang agak lebih pagi, karena jalanan agak longgar. Sesampai dikantor, Yani masih membersihkan ruang kerja. Melihat aku datang dan langsung menuju WC, Yani pun ikut pula masuk. “Pak penasaran pengen liat lagi, semalaman jadi kepikiran pak gara-gara Bapak sih,” katanya. Aku tentu saja membiarkan dia ikut masuk dan menonton barangku. Kali ini dia kusuruh memegangi batang penisku yang sedang mancur. Celana agak aku turunkan, sehingga tidak saja batang penis yang bebas, tetapi kantong menyan di bawahnya juga terbebas. Di pegang Yani penisku jadi memuai, dan kencing nya menjadi mengecil, sehingga penuntasannya jadi lebih lama. Selesai semua keluar aku ajarkan bagaimana mencuci sisa air seni di ujung penisku. Yani kelihatannya penasaran sekali, sehingga dia menurut saja perintahku. Lepas itu di sentuh-sentuh bagian kantong menyan. “ Pak ini apa kok empuk-empuk,” tanyanya. Aku jelaskan dan aku ingatkan agar dia tidak meremas kantong pelirku, karena rasanya sakit dan sengal, kalausempat dia remas bagian itu. Kantong pelirku ditimang-timangnya, lalu batangku di genggamnya. “ Ih gemes deh pak rasanya pengen ngremes aja,” kata Yani.



Yani gadis yang agak agresif dan keingintahuannya cukup besar. Padahal dia belum pernah punya pacar. Pacaran di sekolah dulu hanya sekedar jalan bareng, nonton, tidak lebih dari itu. Jadi dia sebenarnya belum pernah dijamah laki-laki. Aku tidak bisa tinggal diam, tanganku menjamah susunya yang lumayan menggembung. Dari luar bajunya aku remas-remas. Yani kutarik dan kupeluk dari belakang. Tanganku dengan segera menyusup ke balik bajunya dan masuk ke dalam bhnya. Bongkahan susu yang empuk dan kenyal aku remas-remas. Terasa pentilnya yang masih kecil aku pelintir-pelintir. Puas meremas susunya tanganku yang satu lagi membuka celana panjangnya dan langsung menelusup ke balik celana dalamnya. Disana aku meraba bulu-bulu yang tidak terlalu lebat. Ketika jari tengahku menemukan celah belahan memeknya terasa ada lendir di rongganya. Kumainkan sebentar jari tengahku di rongganya lalu aku tekan-tekan clitorisnya. Yani mendesah-desah. Aku makin bersemangat, karena Yani kelihatannya sudah pasrah. Kugosok terus clitorisnya sekitar 5 menit sampai dia akhirnya mencapai orgasme. Setelah itu kami mengakhiri permainan dan kembali membenahi baju kami masing-masing.



Akhirnya hampir setiap hari aku melakukan petting berat di wc dengan Yani. Aku sudah tidak perduli lagi soal statusku dibanding dengan status Yani. Apalagi di depan orang lain dia terlihat normal dalam berhubungan denganku. Yang membedakannya upah membeli makan siang, sekarang makin besar. Tapi itu atas kemauanku sendiri. Hubunganku dengan Yani tidak terendus sedikitpun oleh pegawai-pegawai di kantorku. Jadinya aku merasa aman-aman saja. Setelah acara petting berjalan beberapa waktu, aku penasaran untuk mendapatkan yang lebih.



Pagi itu aku sengaja datang setengah jam dari biasanya. Yani ketika itu juga lagi menyapu ruang kerja. Kutarik dia masuk ke wc perempuan. Pegawai perempuan di lantai ini tidak terlalu banyak. Mereka biasanya baru muncul sekitar jam 10. Rasanya lebih aman bercumbu di wc perempuan. Aku tarik Yani masuk ke salah satu bilik wc perempuan. Toilet duduknya aku tutup dan aku segera menurunkan celanaku. Baju Yani aku buka kancingnya dan BHnya aku lepas. Sedangkan celananya aku lepas semuanya. Yani aku pangku berhadapan. Aku berusaha memasukkan penisku ke celah kemaluannya. Setelah posisinya tepat aku menarik Yani agar menurunkan badannya. Barangku perlahan-lahan ambles ke dalam rongga hangat kemaluan Yani. Pikiranku segera berproses. Rasanya dia sudah tidak perawan lagi, karena penisku tidak menemukan kesulitan berarti untuk tenggelam seluruhnya. Tapi nanti sajalah pertanyaan ini dicari jawabnya. Yani aku arah kan agar bergerak-gerak sehingga aku merasa penisku di remas-remas. Aku lalu bersandar ke toilet dan memberi ruang lebih leluasa bagi Yani. Dia bergerak mengikuti nalurinya sambil tangannya berstumpu di kedua pundakku. Sensasi hidden sex begini memang luar biasa nikmatnya. Payudaranya berguncang-guncang karena gerakan liar Yani. Gerakan susu yang cukup besar ini merupakan pemandangan yang sangat mempesona. Kami bermain sekitar 10 menit. Rasanya Yani sempat mencapai orgasme lalu menjelang aku orgasme aku buru-bur mencabut penis dari lubang nikmat. Meski dalam keadaan sange aku sadar bahwa jika dia hamil, karirku bisa hancur.



Setelah kami menyelesaikan permainan dan masih berpelukan, aku tanyakan ke Yani, apakah dia sudah pernah melakukan seperti ini. Dia terus terang mengaku bahwa dia pernah dikerjai pamannya ketika dia masih kelas 2 SMP. Pamannya sempat 3 kali menggumulinya. Tapi kata Yani dia waktu itu tidak tau apa-apa.



Aku manjadi terbiasa main dengan Yani di WC perempuan di pagi hari. Memang tidak tiap hari, tetapi seminggu paling tidak kami melakukannya 2 kali. Aku kemudian menjadi khawatir juga kalau Yani hamil. Melalui bidan kenalanku dia dipasangsi spiral. Asyiknya yani tidak malu-malu mengajakku main, jika di merasa ingin. Jadi rasanya lebih sering dia mengajak main dibanding aku. Yani memiliki nafsu yang cukup tinggi. Permainan satu ronde bagi dia masih belum cukup. Aku beberapa kali mengajaknya menginap di hotel. Kami melampiaskan hasrat sepuas-puasnya. Meskipun hubunganku dengan Yani sudah sangat jauh, tetapi dia tidak menuntut apa-apa dari ku. Bahkan di depan pegawai lain dia bersikap wajar. Aku yang tidak tega, sehingga kemudian aku memberi uang bulanan yang agak lebih besar dari gajinya.



Sekitar setahun hubunganku dengan Yani, dia mengadu bahwa dia sudah punya cowok. Kata dia cowoknya cakep dan sudah kerja di asuransi. “Pak aku tiap malam main ama cowokku, abis kalau lagi kepengin kepalaku rasanya pening,” kata Yani. Permainan denganku masih terus sampai akhirnya dia menikah dengan cowoknya. Menjelang pernikahannya aku minta bidan temanku untuk mencabut spiralnya. Kata yani, cowoknya tidak tahu kalau dia pakai spiral.



== THE END ==

BERCINTA DENGAN PACAR TEMAN KU

Nama Aku Bintang (Samaran). Ini cerita pengalaman aku gan pas masih kuliah dulu (rada malu juga sih, tapi klo di pikir2 gila juga aku ya). Jadi aku punya cewek, cewek aku punya sahabat, nah sahabat cewek aku itu punya cowok, cowoknya itu 1 kontrakan sama aku…



Inget banget kejadiannya hari minggu pas aku lagi molor tiba2 cewek aku telp minta ambilin baju hem putih di rumah Mita buat di pake besok. Cewek aku lagi di rumah tantenya di luar kota. Ya udah segeralah aku mandi. Pas mau berangkat temen aku telp minta tolong ambilin ATMnya dia di tempat Mita (Ceweknya) trus tranferin duit ke no rek yg dia kasih...



Sampe di Rumah Mita aku langsung kaget, Mita bukain pintu pake daster terusan you can see. Dalem ati aku.. Bujug… mantab amat... (masih sadar klo itu pacarnya temenku n temennya pacarku). Aku di suruh masuk ke ruang tamu.



“Sendirian?“ tanya Mita.



“Iya” jawabku sambil ngeliat keluar. Sumpah aku risih banget ngeliat dia.



“Baru bangun tidur Mit?“ aku nanya ke Mita.



“Iya, abis binggung mau ngapain. Orang2 rumah pada ke luar kota”



“Blom mandi ya?” tanyaku sambil senyum2.



“hehehehe iya” Mita ketawa-ketawa



“Habis yg dateng kamu ini, Kalo artis baru dah mandi dulu”



“ah sial, hahaha“ aku ketawa-ketawa



“Bentar ya aku ambilin bajunya, sama ATMnya Andri (Cowoknya)” katanya sambil berdiri

“Oya mau minum apa?”



“Apa aja Mit”



Pas Mita kedalem aku baca2 buku kuliahnya Mita di rak bukunya dia. Tiba2 ada yg jatuh.. Pas aku ambil ternyata kondom masih utuh belum di buka segelnya. Weng.. aku kaget.. trus tiba2 Mita dateng sambil bawain minum



“Hayooo liat apaan?” Mita senyum2



“Liat buku kamu ni lho.. nemu ginian” Aku tunjukin barang temuan aku..



“Oalah.. itu punyanya Andri”



“Emang abis ngapain?” Aku pura2 bego aja



“Ya kamu tau sendiri lah” Mita jawab sambil duduk dan naro minuman di meja.



Aku sama Mita langsung sharing tentang pengalaman ML masing2… Sumpah aku baru kali ini sharing masalah beginian sama cewek. Lama2 kelamaan sharing aku si otong naek juga apalagi ngeliat badannya Mita yg mantab itu sambil ngebayangin..



“Wah.. kamu Horny ya Bin” Mita ketawa-ketawa sambil ngeliatin otong aku



“hehehehe” aku salah tingkah



“Gila Mit ngebayangin kamu di pake Andri ga tahan juga”



“aku sebenernya ngebayangin kamu sama Rika (cewek aku) juga lho” Mita ketawa-ketawa



“ga pengen maen sama aku Mit” aku masang muka ngarep



“Gila aja kamu, klo Rika tau gmn? Andri tau juga mati aku” muka Mita mulai serius..



“Rahasia kita berdua Mit. Aku horny bgt nih. Kamu juga khan lama ga di servis” aku nganggep ini masih becandaan aja



“emang kamu ga jijik, aku belum mandi lho”



“ga pa2, aku seneng sama bau kamu”



Hal gila yang aku lakuin, aku cium aja langsung bibirnya. Mita ngebales ciuman aku. Aku masukin lidah aku ke dalem. Mita ternyata jago banget ciumannya. Aku aja sampe megap2 kagak bisa napas.



“Ke kamar aja yuk” Mita berdiri sambil gandeng tangan aku. Aku ngikut aja.



Pas nyampe kamar Mita langsung buka dasternya. Aje gila ternyata Mita ga pake CD! Langsung keliatan bulu2 hitamnya. Lumayan juga bulunya, bikin aku horny ga karuan. Bodi Mita aduhai banget, kaya Dewi Persik. Tau lah ga putih2 amat (malah rada item), tapi toket yang mantab banget. Mita langsung ke kamar mandi dulu yg ada di kamarnya.



“Mau ngapain Mit?” aku bingung



“Bentar, bersiin bawahnya dulu. Aku khan belum mandi, pasti punyakuu bau deh. Tar kamu jijik lagi”



Selesai bersihin vaginanya, Mita tiduran di ranjang gedenya sambil ngangkang. Aku udah bisa nebak kalo dia mau di jilatin vaginanya. Aku sikat aja langsung vaginanya, aku sedot2 kacangnya. Mita mendesah-desah sambil menggeliat kiri kanan. Wah bener2 horny nih bocah pikir aku. Vagina Mita wangi banget, pasti tadi dia pake sabun pembersih.



Pas lumayan lama aku jilatin, Mita kejang2. Wah pikir aku keluar nih. Ternyata bener ada cairan kentel keluar dari vaginanya dia.



“Gila Bin, Kamu hebat deh. Baru kali ini aku dijilatin bisa keluar” Mita ngos2an



“Iya dung, Rika aja paling seneng klo aku jilatin” kataku bangga



“Sini gantian aku isepin” Mita duduk dan nyuruh aku tiduran.



Gila isepannya maut banget. Aku ampe merem melek. Ga lama aku keluarin sperma aku ke mulut Mita. Mita langsung ke kamar mandi.



“Kenapa Mit?” aku samperin ke kamar mandi



“Ga papa, dari dulu aku ga seneng rasanya sperma. Asin banget” Mita keluar dari kamar mandi

“Kamu masih kuat kan?”



“Masih dong” aku ketawa2.



Otong aku pas itu masih turun sih, tapi Mita ngambil inisiatif ngisepin lagi otong aku. Lama2 otong aku berdiri lagi. Langsung aja aku masukin ke vaginanya. Pertamanya aku hati2 masukinnya takut Mita kesakitan. Pengalaman aku sama cewek aku, selalu kesakitan dia, padahal udah sering ML. Ternyata Mita ga kesakitan sama sekali. Aku bingung. Pas aku tanya, emangnya otongnya Andri sama punya aku gedean mana, kata dia gedean Andri tapi panjangan punya aku.. Ooo pantes pikir aku..



Mita desah kenceng banget. Untung aja kamarnya agak kedap trus rumahnya juga gede banget jadinya tetangga ga ada yg denger (Paling, aku juga ja tau sih)



“Ahhhhh… Gila Bin goyangan kamu enak juga” Mita meracau terus “ahhhhh, ahhhhh, terus2…”



Baru kali ini aku ML sama cewek yg meracau terus dah, saking hornynya kali ya atau aku yg hebat… (bangga)..



Sekitar 15 menit aku minta ganti posisi sama Mita. Aku minta doggy style ke dia. Mita langsung nungging, langsung aku sikat lagi. Aku seneng banget sama pantatnya Mita, gede banget…



Trus aku iseng2 aja nanya ke dia, “Mit pernah anal?”



“Belum, tapi aku sih pengen. Cuman Andri ga pernah mau, katanya kasian aku. Kata dia anal sakit banget” jawab Mita sambil terus meracau



“Kamu mau?” tanyaku. Mita langsung manggut2



Aku lepas otong dari vagina Mita trus aku arahin ke lobang belakang Mita. Gila susah banget masuknya. Aku paksa ga bisa2, akhirnya aku nyari handbody trus aku olesin ke lobangnya dia sama otong aku. Langsung deh, jleb… gampang banget tapi Mita langsung nangis. Aku rasa dia kesakitan. Aku langsung cabut otong aku, ga tega ngeliat dia. Trus aku masukin lagi ke vaginanya…



Sekitar 15 menit kita maen Mita tiba2 kejang2 lagi, ternyata dia keluar lagi. Pas udah selesai kejang2, otongku aku cabut trus aku kocok. Sperma aku tumpah di pantat Mita. Mita langsung lemes telentang di ranjang, ngos2an.



“Aku puas banget Bin. Kamu hebat. Baru kali ini aku bisa keluar lama”



“Mit kamu mau udahan?” aku lumayan capek juga



“kenapa?”



“Masih napsu nih” aku senyum2



“Wuih gila kamu Bin” Mita bingung

“ga capek?” Aku geleng2

“Ya udah tapi kamu yang kerja ya, aku capek banget”



Aku ngeliat mukanya Mita capek banget, tapi sumpah ngeliat bodinya dia aku napsu terus. Aku inget dulu maen sampe 5 ronde, rekor aku. Sama cewek aku aja cuman 3 ronde. Sekitar 4 jam aku di rumah Mita, aku ijin pulang ke Mita. Yang lucu banget, Mita nganter aku ke pintu sambil pincang2 kaya orang ga kuat jalan.



"Kamu ga papa?" tanyaku.



"Ga papa. Cuman rasanya tulang patah semua. Gara2 sampe 5 ronde nih! tapiaku puas banget hari ini, Bin. Makasih ya?" jawab Mita sambil senyum manis banget.



Setelah itu aku merasa bersalah banget sama cewek aku dan juga sobat aku. Tapi perasaan bersalah ke sobat aku ilang gara2 setelah itu aku baru tau kalo temen aku udah 3 orang yg di pake dia… sial lebih tega ternyata..



Sekarang aku kalo ketemu Mita, cuman bisa saling pandang doang… hehehehehe… malu bener dah…



Bonus...

RUMAH TANTE RANI

Sudah menjadi cita-citanya sejak kecil untuk bisa duduk di bangku perguruan tinggi. Apalagi kenyataan yang ada di kampungnya, masih dengan mudah dihitung dengan jari orang-orang yang telah duduk di bangku perguruan tinggi. Bukan karena tidak ada kemauan, tetapi dari semua itu dikarenakan kebanyakan dari mereka keluarga yang sangat sederhana dan rata-rata berada digaris kemiskinan. Selain itu jarak antara perguruan tinggi yang ada sangat jauh, sehingga bila ada yang berkeinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi harus berganti mobil angkot minimal lima kali, itu juga dengan bantuan kendaraan roda dua yaitu ojeg.



Sangat beruntung bagi Arie bisa sampai menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. Tapi lepas dari SMA kebingungan menyertainya, karena tidak tahu harus bagaimana lagi setelah menyelesaikan pendidikan SMA. Keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tetap besar. Namun semua itu tentunya sangat berhubungan dengan biaya. Apalagi kalau kuliahnya harus pulang pergi, tentunya biaya akan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya kuliahnya. Dengan segala kegelisahan yang ada, akhirnya semuanya diceritakan dihadapan kedua orang tuanya. Mereka dengan penuh bijaksana menerangkan semua kemungkinan yang akan terjadi dari kemungkinan kekurangan uang dengan akan menjual sepetak sawah. Sampai dengan alternatif untuk tinggal di rumah kakak ibunya.



Mendengar antusiasnya kedua orang tuanya, membuat semangat Arie bertambah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Memang keluarganya bisa dikatakan mapan untuk ukuran orang-orang yang ada di kampung itu. Kedua orang tuanya memiliki beberapa petak sawah dan menjadi salah satu tokoh di kampung itu.



"Arie.." sapa ibunya ketika Arie sedang merapikan beberapa pakaian untuk dibawa ke kota. Ini ada surat dari ayahmu untuk Oom di kota nanti. Sebuah surat yang mungkin penegasan dari ayah Arie untuk menyakinkan bahwa anaknya akan tinggal untuk sementara waktu di rumah Oomnya. Sebetulnya orang tua Arie sudah menelepon Tuan Budiman tetapi karena Tuan Budiman dan Arie sangat jarang sekali bertemu maka orang tua Arie memberikan surat penegasan bahwa anaknya akan tinggal di Bandung, di rumah Oomnya untuk sementara waktu.



Oomnya yang bernama Budiman memang paling kaya dari keluarga ibunya yang terdiri dari empat keluarga. Oomnya yang tinggal di Bandung dan mempunyai beberapa usaha di bidang jasa, percetakan sampai dengan sebuah surat kabar mingguan dan juga bisnis lainnya yang sangat berhasil.



Hubungan antara Oomnya yang bernama Budiman dan kedua orang tua Arie sebetulnya tidak ada masalah, hanya karena kedua orang tua Arie yang sering memberikan nasehat karena kelakuan Oomnya yang sering berganti-ganti istri dan akibat dari berganti-ganti istri itu sehingga anak-anaknya tercecer di mana-mana. Menurut ibu Arie, Oomnya telah berganti istri sampai dengan empat kali dan sekarang ia sedang menduda. Dari keempat istri tersebut Budiman dianugerahi empat anak, dua dari istri yang pertama dan duanya lagi dari istri-istri yang kedua dan ketiga sedang dari istri yang keempat Om Budiman tidak mempunyai anak.



Anak Om Budiman yang paling bungsu di bawah Arie dua tahun dan ia masih SMA di Bandung. Jadi usia Om Budiman kira-kira sekarang berada di atas lima puluh tahun.



Sesampainya di kota Bandung yang begitu banyak aktivitas manusia, Arie langsung masuk ke sebuah kantor yang bertingkat tiga. Kedatangannya ke kantor itu disambut oleh kedua satpam yang menyambutnya dengan ramah. Belakangan diketahui namanya Asep dari papan nama yang dikenakan di bajunya.



"Selamat siang Pak," Tegur Arie kepada salah satu satpam yang ada dua orang.

"Selamat siang Dik, ada yang bisa dibantu," jawab satpam yang bernama Asep.

"Anu Pak, apa Bapak Budiman ada?"

"Bapak Budiman yang mana Dik," tegas satpam Asep, karena melihat suatu keraguan bahwa tidak mungkin bosnya ada bisnis dengan anak kecil yang baru berumur dua puluh tahunan.

"Anu Pak, apa ini PT. Rido," tanya Arie menyusul keraguan satpam. Karena sebetulnya Arie juga belum pernah tahu dimana kantor-kantor Oomnya itu, apalagi bisnis yang digelutinya.

"Iya.. Benar Dik, dan Bapak Budiman itu adalah pemilik perusahaan ini," tegas satpam Asep menjelaskan tentang keberadaan PT. Rido dan siapa pemiliknya.

"Adik ini siapa," tanya satpam kepada Arie, sambil mempersilakan duduk di meja lobby bawah.

"Saya Arie Pak, keponakan dari Bapak Budiman dari desa Gunung Heulang."

"Keponakan," tegas satpam, sambil terus mengangkat telepon menghubungi Pak Dadi kepercayaan Tuan Budiman.



Selang beberapa menit kemudian Pak Dadi datang menghampiri Arie sambil memberikan selamat datang di kota Bandung. "Arie.. Apa masih ingat sama Bapak," kata Pak Dadi sambil duduk seperti teman lama yang baru ketemu.

Mimik Arie jadi bingung karena orang yang datang ini ternyata sudah mengenalnya.

"Maaf Pak, Arie Sudah lupa dengan Bapak," kata Arie sambil terus mengigat-ingat.

Pak Dadi terus menerangkan dirinya, "Saya yang dulu sering mancing bersama Tuan Budiman ketika Arie berumur kurang lebih lima tahun."

Arie jadi bingung, "Wah, Bapak bisa saja.. mana saya ingat Pak, itukan sudah bertahun-tahun."



Selanjutnya obrolan dengan Pak Dadi yang belakangan ini diketahui selain kepercayaan di kantor, ia juga sebagai tangan kanan Tuan Budiman. Bapak Dadi mengetahui apa pun tentang Tuan Budiman. Kadangkala anak Om Budiman sering minta uang pada Pak Dadi bila ternyata Om Budiman sedang keluar kota. Malah belakangan ini Om Budiman membeli sebuah rumah dan di belakangnya dibuat lagi rumah yang tidak kalah besarnya untuk Pak Dadi dan istrinya sedangkan yang depan dipakai oleh istri mudanya yang kurang lebih baru berumur 35 tahun.



"Aduh Dik Arie, Bapak tadi dapat perintah dari Tuan Budiman bahwa ia tidak dapat menemani Dik Arie karena harus pergi ke Semarang untuk urusan bisnis. Dan saya diperintahkan untuk mencukupi keperluan Dik Arie. Nah, sekarang kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu," sambung Pak Dadi melihat ekspresi Arie yang sedikit kecewa karena ketakutan akan tempat tinggal. Melihat gelagat itu Pak Dadi langsung berkomentar, "Jangan takut Dik Arie pokoknya kamu tidak akan ada masalah," tegur Pak Dadi sambil menegaskan akan tidur dimana dan akan kuliah dimana, itu semuanya telah diaturnya karena mempunyai uang dan uang sangat berkuasa di bidang apapun.



Mendengar itu Arie menjadi tersenyum, sambil melihat-lihat orang yang berlalu lalang di depanya. Kebetulan pada saat itu jam masuk karyawan sudah dimulai. Begitu banyak karyawati yang cantik-cantik ditambah lagi dengan penampilannya yang mengunakan rok mini. Keberadaan Arie sebagai keponakan dari pemilik perusahan itu sudah tersebar dengan cepatnya. Ditambah lagi dengan postur badan Arie yang atletis dan wajah yang gagah membuat para karyawati semakin banyak yang tersenyum bila melewati Arie dan Pak Dadi yang sedang asyik ngobrol.



Mereka tersenyum ketika bertatap wajah dengan Arie dan ia segaja duduk di lobby depan, meskipun tawaran untuk pindah ke lobby tengah terus dilontarkan oleh Pak Dadi karena takut dimarahi oleh Tuan Budiman. Memang tempat lobby itu banyak orang lalu lalang keluar masuk perusahaan, dan semua itu membuat Arie menjadi betah sampai-sampai lupa waktu karena keasyikan cuci mata.



Keasyikan cuci mata terhenti ketika Pak Dadi mengajaknya pulang dengan mengendarai sebuah mobil sedan dengan merk Mercy terbaru, melaju ke sebuah kawasan villa yang terletak di pinggiran kota Bandung. Sebuah pemukiman elit yang terletak di pinggiran Kota Bandung yang berjarak kurang lebih 17 Km dari pusat kota. Sebuah kompleks yang sangat megah dan dijaga oleh satpam.



Laju mobil terhenti di depan rumah biru yang berlantai dua dengan halaman yang luas dan di belakangnya terdapat satu rumah yang sama megahnya, kolam renang yang cantik menghiasi rumah itu dan sebagai pembatas antara rumah yang sering didiami Om Budiman dan rumah yang didiami Pak Dadi dan Istrinya. Sedangkan pos satpam dan rumah kecil ada di samping pintu masuk yang diisi oleh Mang Ade penjaga rumah dan istrinya Bi Enung yang selalu menyiapkan makanan untuk Nyonya Budiman. Ketika mobil telah berhenti, dengan sigap Mang Ade membawa semua barang-barang yang ada di bagasi mobil. Satu tas penuh dibawa oleh Mang Ade dan itulah barang-barang yang dibawa Arie. Bi Enung membawa ke ruang tamu sambil menyuruhnya duduk untuk bertemu dengan majikannya.



Pak Dadi yang sejak tadi menemaninya, langsung pergi ke rumahnya yang ada di belakang rumah Om Budiman tetapi masih satu pagar dengan rumah Om Budiman. Pak Dadi meninggalkan Arie, sedangkan Arie ditemani oleh Bi Enung menuju ruang tengah. Setelah Tante Rani datang sambil tersenyum menyapa Arie, Bi Enung pun meninggalkan Arie sambil terlebih dahulu menyuruh menyiapkan air minum untuk Arie.



"Tante sudah menunggu dari tadi Arie," bisiknya sambil menggenggam tangan Arie tanda mengucapkan selamat datang.



"Sampai-sampai Tante ketiduran di sofa", lanjut Tante Rani yang pada waktu itu menggunakan rok mini warna Merah. Wajah Tante Rani yang cantik dengan uraian rambut sebahu menampakkan sifatnya yang ramah dan penuh perhatian.

"Tante sudah tahu bahwa Arie akan datang sekarang dan Tante juga tahu bahwa Om Budiman tidak dapat menemanimu karena dia sedang sibuk."

Obrolan pun mengalir dengan penuh kekeluargaan, seolah-olah mereka telah lama saling mengenal. Tante Rani dengan penuh antusias menjawab segala pertanyaan Arie. Gerakan-gerakan tubuh Tante Rani yang pada saat itu memakai rok mini dan duduk berhadapan dengan Arie membuat Arie salah tingkah karena celana dalam yang berwarna biru terlihat dengan jelas dan gumpalan-gumpalan bulu hitam terlihat indah dan menantang dari balik CD-nya. Paha yang putih dan pinggulnya yang besar membuat kepala Arie pusing tujuh keliling. Meskipun Tante Rani telah yang berumur Kira-kira 35 tahun tapi kelihatan masih seperti gadis remaja.



"Nah, itu Yuni," kata Tante Rani sambil membawa Arie ke ruang tengah. Terlihat gadis dengan seragam sekolah SMP. Memang ruangan tengah rumah itu dekat dengan garasi mobil yang jumlah mobilnya ada empat buah. Sambil tersenyum, Tante Rani memperkenalkan Arie kepada Yuni. Mendapat teman baru dalam rumah itu Yuni langsung bergembira karena nantinya ada teman untuk ngobrol atau untuk mengerjakan PR-nya bila tidak dapat dikerjakan sendiri. "Nanti Kak Arie tidurnya sama Yuni ya Kak." Mendapat pertanyaan itu Arie dibuatnya kaget juga karena yang memberikan penawaran tidur itu gadis yang tingginya hampir sama dengan Arie. Adik kakak yang sama-sama mempunyai badan sangat bangus dan paras yang sangat cantik. Lalu Tante Rani menerangkan kelakuan Yuni yang meskipun sudah besar karena badannya yang bongsor padahal baru kelas dua SMP. Mendengar keterangan itu, Arie hanya tersenyum dan sedikit heran dengan postur badannya padahal dalam pikiran Arie, ia sudah menaruh hati pada Yuni yang mempunyai wajah yang cantik dan putih bersih itu.



Setelah selesai berkeliling di rumah Om Budiman dengan ditemani oleh Tante Rani, Arie masuk ke kamarnya yang berdekatan dengan kamar Yuni. Memang di lantai dua itu ada empat kamar dan tiap kamar terdapat kamar mandi. Tante Rani menempati kamar yang paling depan sedangkan Arie memilih kamar yang paling belakang, sedangkan kamar Yuni berhadapan dengan kamar Arie.



Setelah membuka baju yang penuh keringat, Arie melihat-lihat pemandangan belakang rumah. Tanpa sengaja terlihat dengan jelas Pak Dadi sedang memeluk istrinya sambil nonton TV. Tangan kanannya memeluk istrinya yang bermana Astri. Sedangkan tangan kirinya menempel sebatang rokok. Keluarga Pak Dadi dari dulu memang sangat rukun tetapi sampai sekarang belum dikaruniai anak dan menurut salah satu dokter pribadi Om Budiman, Pak Dadi divonis tidak akan mempunyai anak karena di dalam spermanya tidak terdapat bibit yang mampu membuahinya.



Hari-hari selanjutnya Arie semakin kerasan tinggal di rumah Om Budiman karena selain Tante Rani Yang ramah dan seksi, juga kelakuan Yuni yang menggemaskan dan kadang-kadang membuat batang kemaluan Arie berdiri. Arie semakin tahu tentang keadaan Tante Rani yang sebetulnya sangat kesepian. Kenyataan itu ia ketahui ketika ia dan tantenya berbelanja di suatu toko di pusat kota Bandung yang bernama BIP. Tante Rani dengan mesranya menggandeng Arie, tapi Arie tidak risih karena kebiasaan itu sudah dianggap hal wajar apalagi di depan banyak orang. Tapi yang membuat kaget Arie ketika di dalam mobil, Tante Rani mengatakan bahwa ia sebetulnya tidak bahagia secara batin. Mendengar itu Arie kaget setengah mati karena tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tante Rani menceritakan bahwa Om Budiman sekarang itu sudah loyo saat bercinta dengannya.



Arie tambah bingung dengan apa yang harus ia lontarkan karena ia tidak mungkin memberikan kebutuhan itu meskipun selama ini ia sering menghayalkan bila ia mampu memasukkan burungnya yang besar ke dalam kemaluan Tante Rani. Ketika mobil berhenti di lampu merah, Tante Rani dengan berani tiduran di atas paha Arie sambil terus bercerita tentang kegundahan hatinya selama ini dan dia pun bercerita bahwa cerita ini baru Arie yang mengetahuinya.



Sambil bercerita, lipatan paha Tante Rani yang telentang di atas jok mobil agak terbuka sehingga rok mininya merosot ke bawah. Arie dengan jelas dapat melihat gundukan hitam yang tumbuh di sekitar kemaluan Tante Rani yang terbungkus CD nilon yang sangat transparan itu. Arie menelan ludah sambil terus berusaha menenangkan tantenya yang birahinya mulai tinggi. Ketika Arie akan memindahkan gigi perseneling, secara tidak segaja dia memegang buah dada tantenya yang telah mengeras dan saat itu pula bibir tantenya yang merekah meminta Arie untuk terus merabanya.



Arie menghentikan mobilnya di pinggir jalan menuju rumahnya sambil berkata, "Aku tidak mungkin bisa melakukan itu Tante," Tante Rani hanya berkata, "Arie, Tolong dong.. Tante sudah tidak kuat lagi ingin gituan, masa Arie tidak kasihan sama Tante." Tangan Tante Rani dengan berani membuka baju bagian atas dan memperlihatkan buah dadanya yang besar. Terlihat buah dada yang besar yang masih ditutupi oleh BH warna ungu menantang untuk disantap. Melihat Arie yang tidak ada perlawanan, akhirnya Tante Rani memakai kembali bajunya dan duduk seperti semula sambil diam seperti patung sampai tiba di rumah. Perjalanan itu membuat Arie jadi salah tingkah dengan kelakuan tantenya itu.



Kedekatan Arie dengan Yuni semakin menjadi karena bila ada PR yang sulit Yuni selalu meminta bantuan Arie. Pada saat itu Yuni mendapatkan kesulitan PR matematika. Dengan sekonyong-konyong masuk ke kamar Arie. Pada saat itu Ari baru keluar dari kamar mandi sambil merenungkan tentang kelakuannya tadi siang dengan Tante Rani yang menolak melakukan itu. Arie keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun yang menutupinya. Dengan jelas Yuni melihat batang kemaluan Arie yang mengerut kedinginan. Sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, Yuni membalikkan badannya. Arie hanya tersenyum sambil berkata, "Mangkanya, kalau masuk kamar ketok pintu dulu," goda Arie sambil menggunakan celana pendek tanpa celana dalam. Kebiasaan itu dilakukan agar batang kemaluannya dapat bergerak dengan nyaman dan bebas.



Arie bergerak mendekati Yuni dan mencium pundaknya yang sangat putih dan berbulu-bulu kecil. "Ahh, geli Kak Arie.. Kak Arie sudah pake celana yah," tanya Yuni.

"Belum," jawab Arie menggoda Yuni.

"Ahh, cepet dong pake celananya. Yuni mau minta tolong Kak Arie mengerjakan PR," rengek Yuni sambil tangan kirinya meraba belakang Arie.

Melihat rabaan itu, Arie segaja memberikan batang kemaluannya untuk diraba. Yuni hanya meraba-raba sambil berkata, "Ini apa Kak, kok kenyal." Mendapat rabaan itu batang kemaluan Arie semakin menegang dan dalam pikirannya kalau dengan Yuni aku mau tapi kalau dengan kakakmu meskipun sama-sama cantiknya tapi aku juga masih punya pikiran yang betul, masa tanteku digarap olehku.



Rabaan Yuni berhenti ketika batang kemaluan Arie sudah menegang setengahnya dan ia melepaskan rabaannya dan langsung membalikkan badannya. Arie kaget dan hampir saja tali kolornya yang terbuat dari karet, menjepit batang kemaluannya yang sudah menegang.



Tangan yang tadi digunakan meraba batang kemaluan Arie kembali digunakan menutup wajahnya dan perlahan Yuni membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan terlihat Arie sudah memakai celana pendek. "Nah, gitu dong pake celana," kata Yuni sambil mencubit dada Arie yang menempel di susu kecil Yuni. "Udah dong meluknya," rintih Yuni sambil memberikan buku Matematikanya.



Saling memeluk antara Arie dan Yuni sudah merupakan hal yang biasa tetapi ketika Arie merasakan kenikmatan dalam memeluk Yuni, Yuni tidak merasakan apa-apa mungkin karena Yuni masih anak ingusan yang badannya saja yang bongsor. Arie langsung naik ke atas ranjang besarnya dan bersandar di bantal pojok ruangan kamar itu. Meskipun ada meja belajar tapi Arie segaja memilih itu karena Yuni sering menindihnya dengan pantatnya sehingga batang kemaluan Arie terasa hangat dibuatnya. Dan memang seperti dugaan Arie, Yuni tiduran di dada Arie. Pada saat itu Yuni menggunakan daster yang sangat tipis dan di atas paha sehingga celana dalam berwarna putih dan BH juga yang warna putih terlihat dengan jelas. Yuni tidak merasa risih dengan kedaan itu karena memang sudah seperti itu hari-hari yang dilakukan bersama Arie.



Sambil mengerjakan PR, pikiran Arie melayang-layang bagaimana caranya agar ia dapat mengatakan kepada Yuni bahwa dirinya sekarang berubah hati menjadi cinta pada Yuni. Tapi apakah dia sudah mengenal cinta soalnya bila orang sudah mengenal cinta biasanya syahwatnya juga pasti bergejolak bila diperlakukan seperti yang sering dilakukan oleh Arie dan Yuni.



PR pertama telah diselesaikan dengan cepat, Yuni terseyum gembira. Terlihat dengan jelas payudara Yuni yang kecil. Pikiran Arie meliuk-liuk membayangkan seandainya ia mampu meraba susu itu tentunya sangat nikmat dan sangat hangat. Ketegangan Arie semakin menjadi ketika batang kemaluannya yang tanpa celana dalam itu tersentuh oleh pinggul Yuni yang berteriak karena masih ada PR-nya yang belum terisi. Memang posisi Arie menerangkan tersebut ada di bawah Yuni dan pinggul Yuni sering bergerak-gerak karena sifatnya yang agresif.



Gerakan badan Yuni yang agresif itu membuat paha putihnya terlihat dengan jelas dan kadangkala gumpalan kemaluannya terlihat dengan jelas hanya terhalang oleh CD yang berwarna putih. Hal itu membuat nafas Arie naik turun. Yuni tidak peduli dengan apa yang terjadi pada batang kemaluan Arie, malah Yuni semakin terus bermanja-manja dengan Arie yang terlihat bermalas-malasan dalam mengerjakan PR-nya itu. Pikiran Arie semakin kalang kabut ketika Yuni menggerak-gerakkan badan ke belakang yang membuat batang kemaluannya semakin berdiri menegang. Dengan pura-pura tidak sadar Arie meraba gundukan kemaluan Yuni yang terbungkus oleh CD putih. Bukit kemaluan Yuni yang hangat membuat Arie semakin bernafsu dan membuat nafasnya semakin terengah-engah.



"Kak cepat dong kerjakan PR yang satunya lagi. Yang ini, yang nomor sepuluh susah."

Arie membalikkan badannya sehingga bukit kemaluan Yuni tepat menempel di batang kemaluan Arie. Dalam keadaan itu Yuni hanya mendekap Arie sambil terus berkata, "Tolong ya Kak, nomor sepuluhnya."

"Boleh, tapi ada syaratnya," kata Arie sambil terus merapatkan batang kemaluannya ke bukit kemaluan Yuni yang masih terbungkus CD warna Putih. Pantat Yuni terlihat dengan jelas dan mulai merekah membentuk sebuah badan seorang gadis yang sempurna, pinggul yang putih membuat Arie semakin panas dingin dibuatnya. Yuni hanya bertanya apa syaratnya kata Yuni sambil mengangkat wajahnya ke hadapanya Arie. Dalam posisi seperti itu batang kemaluan Arie yang sudah menegang seakan digencet oleh bukit kemaluan Yuni yang terasa hangat. Arie tidak kuat lagi dengan semua itu, ia langsung mencium mulut Yuni. Yuni hanya diam dan terus menghidar ciuman itu. "Kaak.. apa dong syaratnya", kata Yuni manja agresif menggerak-gerakkan badannya sehingga bukit kemaluannya terus menyentuh-nyentuh batang kemaluan Arie. Gila anak ini belum tahu apa- apa tentang masalah seks. Memang Yuni tidak merasakan apa-apa dan ia seakan-akan bermain dengan teman wanitanya tidak ada rasa apa pun. "Syaratnya kamu nanti akan kakak peluk sepuasnya."



Mendengar itu Yuni hanya tertawa, suatu syarat yang mudah, dikirain harus push-up 1000 kali. Konsentrasi Arie dibagi dua yang satu terus mendekatkan batang kemaluannya agar tetap berada di bawah bukit kemaluan Yuni yang sering terlepas karena Yuni yang banyak bergerak dan satunya lagi berusaha menyelesaikan PR-matematikanya. Yuni terus mendekap badan Arie sambil kadang-kadang menggerakkan lipatan pahanya yang menyetuh paha Arie.



Setelah selesai mengerjakan PR-nya, Arie menggerak-gerakkan pantatnya sehingga berada tepat di atas bukit kemaluan Yuni. Arie semakin tidak tahan dengan kedaan itu dan langsung meraba-raba pantat Yuni. Ketika Arie akan meraba payudara Yuni. Yuni bangkit dan terus melihat ke wajah Arie, sambil berkata, "PR-nya sudah Kaak.. Arie," sambil menguap.



Melihat PR-nya yang sudah dikerjakan Arie, Yuni langsung memeluk Arie erat-erat seperti memeluk bantal guling karena syaratnya itu. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Arie begitu saja, Arie langsung memeluk Yuni berguling-guling sehingga Yuni sekarang berada di bawah Arie. Mendapat perlakuan yang kasar dalam memeluk itu Yuni berkata, "Masa Kakak meluk Yuni nggak bosan-bosan." Berbagai alasan Arie lontarkan agar Yuni tetap mau dipeluk dan akhirnya akibat gesekan-gesekan batang kemaluan Arie bergerak-gerak seperti akan ada yang keluar, dan pada saat itu Yuni berhasil lepas dari pelukan Arie sambil pergi dan tidak lupa melenggokkan pantatnya yang besar sambil mencibirkan mulutnya.



"Aduh, Gila si Yuni masih tidak merasakan apa-apa dengan apa yang barusan saya lakukan," guman Arie dalam hati sambil terus memegang batang kemaluannya. Arie berusaha menetralisir batang kemaluannya agar tidak terlalu tegang. "Tenang ya jago, nanti kamu juga akan menikmati kepunyaan Yuni cuma tinggal waktu saja. Nanti saya akan pura-pura memberikan pelajaran Biologi tentang anatomi badan dan di sanalah akan saya suruh buka baju. Masa kalau sudah dibuka baju masih belum terangsang."



Arie memang punya prinsip kalau dalam berhubungan badan ia tidak mau enak sediri tapi harus enak kedua-duanya. Itulah pola pikir Arie yang terus ia pertahankan. Seandainya ia mau tentunya dengan gampang ia memperkosa Yuni.



Ketegangan batang kemaluan Arie terus bertambah besar tidak mau mengecil meskipun sudah diguyur oleh air. Untuk menghilangkan kepenatan Arie keluar kamar sambil membakar sebatang rokok. Ternyata Tante Rani masih ada di ruang tengah sambil melihat TV dan meminum susu yang dibuatnya sendiri. Tante Rani yang menggunakan daster warna biru dengan rambut yang dibiarkan terurai tampak sangat cantik malam itu. Lekukan tubuhnya terlihat dengan jelas dan kedua payuadaranya pun terlihat dengan jelas tanpa BH, juga pahanya yang putih dan mulus terpampang indah di hadapannya. Keadaan itu terlihat karena Tante Rani duduk di sofa yang panjang dengan kaki yang putih menjulur ke depan.



Ketegangan Arie semakin memuncak melihat keindahan tubuh Tante Rani yang sangat seksi dan mulus itu.

"Kamu kenapa belum tidur Ari," kata Tante Rani sambil menuangkan segelas air susu untuk Arie.

"Anu Tante, tidak bisa tidur," balas Arie dengan gugup.

Memang Tante Rani yang cantik itu tidak merasa canggung dengan keberadaan Arie, ia tidak peduli dengan keberadaan Ari malah ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di hadapan Arie yang sudah sangat terangsang.



"Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan terhadap Arie."

"Tidak apa-apa Tante, Arie mengerti tentang hal itu," jawab Arie sambil terus menahan gejolak nafsunya yang sudah di luar batas normal ditambah lagi dengan perlakuan Yuni yang membuat batang kemaluannya semakin menegang tidak tentu arah.

"Oom kemana Tante, kok tidak kelihatan," tanya Arie mengisi perbincangan.

"Kamu tidak tahu, Oom kan sedang ke Bali mengurus proyek yang baru," jawab Tante Rani.

Memang Om Budiman sangat jarang sekali ada di rumah dan itu membuat Ari semakin tahu akan kebutuhan batin Tante Rani, tapi itu tidak mungkin dilakukannya dengan tantenya.



Arie dan Tante Rani duduk di sofa yang besar sambil sesekali tubuhnya digerak-gerakkan seperti cacing kepanasan. Tak diduga sebelumnya oleh Arie, Tante Rani membuka dasternya yang menutupi paha putihnya yang putih bersih sambil menggaruk-garukkan tangannya di seputar gundukan kemaluannya. Mata Arie melongo tidak percaya. Dua kali dalam satu hari ia melihat paha Tante Rani, tapi yang ini lebih parah dari yang tadi siang di dalam mobil, sekarang Tante Rani tidak menggunakan celana dalam. Kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam tersingkap dengan jelas dan tangan Tante Rani terus menggaruk-garuk di seputar kemaluannya itu karena merasa ada yang gatal.



Melihat itu Arie semakin gelisah dan tidak enak badan ditambah lagi dengan ketegangan di batang kemaluannya yang semakin menegang.

"Kamu kenapa Arie," tanya Tante Rani yang melihat wajah Arie keluar keringat dingin.

"Nggak Tante, Arie cuma mungkin capek," balas Arie sambil terus sekali-kali melihat ke pangkal paha putih milik Tante Rani.



Setelah merasa agak baikan di sekitar kemaluannya, Tante Rani segaja tidak menutup pahanya, malah ia duduk bersilang sehingga terlihat dengan jelas pangkal pahanya dan kemaluannya yang merekah. Melihat Arie semakin menegang, Tante Rani tersenyum dan mempersilakan Arie untuk meminum susu yang dituangkan di dalam gelas itu.



Ketegangan Arie semakin memuncak dan Arie tidak berani kurang ajar pada tantenya meskipun tahu bahwa tantenya segaja memperlihatkan kemulusan pahanya itu. "Tante, saya mau ke paviliun belakang untuk mencari udara segar." Melihat Arie yang sangat tegang itu Tante Rani hanya tersenyum, dalam pikirannya sebentar lagi kamu akan tunduk padaku dan akan meminta untuk tidur denganku.



Sebelum sampai ke paviliun belakang Arie jalan-jalan dulu di pinggiran kolam lalu ia duduk sambil melihat kolam di depannya. Sambil terus berusaha menahan gejolaknya antara menyetubuhi tantenya atau tidak. Sambil terus berpikir tentang kejadian itu. Tidak sengaja ia mendengar rintihan dari belakang yang kebetulan kamar Pak Dadi. Arie terus mendekati kamar Pak Dadi yang kebetulan dekat dengan Paviliun. Arie mengendus-endus mendekati jendela dan ternyata jendelanya tidak dikunci dan dengan mudah Arie dapat melihat adegan suami istri yang sedang bermesraan.



Di dalam kamar yang berukuran cukup besar itu, Arie melihatnya leluasa karena hanya terhalang oleh tumpukan pakaian yang digantung dekat jendela itu. Di dalamnya ternyata Pak Dadi dengan istrinya sedang bermesraan. Istri Pak Dadi yang bernama Astri sedang asyik mengulum batang kejantanan Pak Dadi dengan lahapnya. Dengan penuh birahi Astri terus melahap dan mengulum batang kemaluan Pak Dadi yang ukurannya lebih kecil dari ukuran yang dimiliki Arie. Astri terus mengulum batang kemaluan Pak Dadi. Posisi Pak Dadi yang masih menggunakan pakaian dan celananya yang telah merosot ada di lantai dengan posisi duduk terus mengerang-erang kenikmatan yang tiada bandingnya sedangkan Astri jongkok di lantai. Terlihat Astri menggunakan CD warna hitam dan BH warna hitam. Erangan-erangan Pak Dadi membuat batang kemaluan Pak Dadi semakin mesra dikulum oleh Astri.



Dengan satu gerakan Astri membuka daster yang dipakainya karena melihat suaminya sudah kewalahan dengan kulumannya. Terlihat dengan jelas buah dada yang besar masih ditutupi BH hitamnya. Pak Dadi membantu membuka BH-nya dan dilanjutkan dengan membuka CD hitam Astri. Astri yang masih melekat di badan Pak Dadi meminta Pak Dadi supaya duduk di samping ranjang. Lalu Pak Dadi menyuruh Astri telentang di atas ranjang dan pantatnya diganjal oleh bantal sehingga dengan jelas terlihat bibir kemaluan Astri yang merah merekah menantang kejantanan Pak Dadi.



Sebelum memasukkan batang kemaluannya, Pak Dadi mengoleskan air ludahnya di permukaan bukit kemaluan Astri. Dengan kaki yang ada di pinggul Pak Dadi, Astri tersenyum melihat hasil karyanya yaitu batang kemaluan suaminya tercinta telah mampu bangkit dan siap bertempur. Dengan perlahan batang kemaluan Pak Dadi dimasukkan ke dalam liang kemaluan Astri, terlihat Astri merintih saat merasakan kenikmatan yang tiada tara, kepala Astri dibolak-balikkan tanpa arah dan tangannya terus meraba-raba dada Pak Dadi dan sekali-kali meraba buah dadanya. Memang beradunya batang kemaluan Pak Dadi dengan liang senggama Astri terasa cukup lancar karena ukurannya sudah pas dan kegiatan itu sering dilakukannya. Erangan-erangan Astri dan Pak Dadi membuat tubuh Arie semakin panas dingin, entah sudah berapa menit lamanya Tante Rani memainkan kemaluan Arie yang sudah menegang, ia tersenyum ketika tahu bahwa di belakangnya ada orang yang sedang memegang kemaluannya.



"Tante, kapan Tante datang", suara Arie perlahan karena takut ketahuan oleh Pak Dadi sambil berusaha menjauh dari tempat tidur Pak Dadi. Tangan Tante Rani terus menggandeng Arie menuju ruang tengah sambil tangannya menyusup pada kemaluan Arie yang sudah menegang sejak tadi. Sesampainya di ruang tengah, Arie duduk di tempat yang tadi diduduki Tante Rani, sementara Tante Rani tiduran telentang sambil kepalanya ada seputar pangkal paha Arie dengan posisi pipi kanannya menyentuh batang kemaluan Arie yang sudah menegang.



"Kamu kok orang yang sedang begituan kamu intip, nanti kamu jadi panas dingin dan kalau sudah panas dingin susah untuk mengobatinya. Untung saja kamu tadi tidak ketahuan oleh Pak Dadi kalau kamu ketahuan kamu kan jadi malu. Apalagi kalau ketahuan sama Oommu bisa-bisa Tante ini, juga kena marah." Tante Rani memberikan nasehat-nasehat yang bijak sambil kepalanya yang ada di antara kedua selangkangan Arie terus digesek-gesek ke batang kemaluan Arie. "Tante tahu kamu sekarang sudah besar dan kamu juga tahu tentang kehidupan seks. Tapi kamu pura-pura tidak mau," goda Tante Rani, "Dan kamu sudah tahu keinginan Tantemu ini, kamu malah mengintip kemesraan Pak Dadi," nasehat-nasehat itu terus terlontar dari bibir yang merah merekah, dilain pihak pipi kirinya digesek-gesekkan pada batang kemaluan Arie.



Arie semakin tidak dapat lagi menahan gejolak yang sangat tinggi dengan tekanan voltage yang berada di luar batas kemanusiaan. "Tante jangan gitu dong, nanti saya jadi malu sama Tante apalagi nanti kalau oom sampai tahu." Mendengar elakan Arie, Tante Rani malah tersenyum, "Dari mana Oommu tahu kalau kamu tidak memberitahunya."



Gila, dalam pikiranku mana mungkin aku memberitahu Oomku. Gerakan kepala Tante Rani semakin menjadi ditambah lagi kaki kirinya diangkat sehingga daster yang menutupi kakinya tersingkap dan gundukan hitam yang terawat dengan bersih terlihat merekah. Bukit kemaluan Tante Rani terlihat dengan jelas dengan ditumbuhi bulu-bulu yang sudah dicukur rapi sehingga terlihat seperti kemaluan gadis seumur Yuni.



Arie sebetulnya sudah tahu akan keinginan Tante Rani. Tapi batinnya mengatakan bahwa dia tidak berhak untuk melakukannya dengan tantenya yang selama ini baik dan selalu memberikan kebutuhan hidupnya. Tanpa disadari tantenya sudah menaikkan celana pendeknya yang longgar sehingga kepala batang kemaluan Arie terangkat dengan bebas dan menyentuh pipi kirinya yang lembut dan putih itu. Melihat Keberhasilannya itu Tante Rani membalikkan badan dan sekarang Tante Rani telungkup di atas sofa dengan kemaluannya yang merekah segaja diganjal oleh bantal sofa.



Tangan Tante Rani terus memainkan batang kemaluan Arie dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. "Aduh punya kamu ternyata besar juga," bisik Tante Rani mesra sambil terus memainkan batang kejantanan Arie dengan kedua tangannya. "Masa kamu tega sama Tante dengan tidak memberikan reaksi apapun Riee," bisik Tante Rani dengan nafas yang berat. Mendengar ejekan itu hati Arie semakin berontak dan rasanya ingin menelan tubuh molek di depannya bulat-bulat dan membuktikan pada tantenya itu bahwa saya sebetulnya bisa lebih mampu dari Pak Dadi.



Mulut Tante Rani yang merekah telah mengulum batang kemaluan Arie dengan liarnya dan terlihat badan Tante Rani seperti orang yang tersengat setrum ribuan volt. "Ayoo doong Riee, masa kamu akan menyiksa Tante dengan begini.. ayo dong gerakin tanganmu." Kata-kata itu terlontar sebanyak tiga kali. Sehingga tangan Arie semakin berani menyentuh pantatnya yang terbuka. Dengan sedikit malu-malu tapi ingin karena sudah sejak tadi batang kemaluan Ari menegang. Arie mulai meraba-saba pantatnya dengan penuh kasih sayang.



Mendapatkan perlakuan seperti itu, Tante Rani terus semakin menggila dan terus mengulum kepunyaan Arie dengan penuh nafsu yang sudah lama dipendam. Sedotan bibir Tante Rani yang merekah itu seperti mencari sesuatu di dalam batang kemaluan Arie. Mendapat serangan yang sangat berapi-api itu akhirnya Arie memutar kaki kirinya ke atas sehingga posisi Arie dan tantenya seperti huruf T.



Tangan Arie semakin berani mengusap-usap pinggul tantenya yang tersingkap dengan jelas. Daster tantenya yang sudah berada di atas pinggulnya dan kemaluan tantenya dengan lincah menjepit bantal kecil sofa itu. "Ahkk, nikmat.." Tantenya mengerang sambil terus merapatkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu sambil menghentikan sementara waktu kulumannya. Ketika ia merasakan akan orgasme. "Arie.. Tante sudah tidak tahan lagi nich.." diiringi dengan sedotan yang dilakukan oleh tantenya itu karena tantenya ternyata sangat mahir dalam mengulum batang kemaluannya sementara tangannya dengan aktif mempermainkan sisi-sisi batang kemaluan Arie sehingga Arie dibuatnya tidak berdaya.



"Aduh. aduh.. Tante nikmat sekalii.." erang tantenya semakin menjadi-jadi. Hampir tiga kali Tante Rani merintih sambil mengerang. "Aduuh Riee.. terus tekan-tekan pantat Tante.." desah Tante Rani sambil terus menggesek-gesekkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu. Arie meraba kemaluan tantenya, ternyata kemaluan Tante Rani sudah basah oleh cairan-cairan yang keluar dari liang kewanitaannya. "Ariee.. nah itu terus Riee.. terus.." erang Tante Rani sambil tidak henti-hentinya mengulum batang kemaluan Arie.



"Kamu kok kuat sekali Riee," bisik tante Rani dengan nafas yang terengah-engah sambil terus mengulum batang kemaluan Arie. Tante Rani setengah tidak percaya dengan kuluman yang dilakukannya karena belum mampu membuat Arie keluar sperma. Arie berguman, "Belum tahu dia, ini belum seberapa. Tante pasti sudah keluar lebih dari empat kali terbukti dengan bantal yang digunakan untuk mengganjal liang kewanitaannya basah dengan cairan yang keluar seperti air hujan yang sangat deras."



Melihat batang kemaluan Arie yang masih tegak Tante Rani semakin bernafsu, ia langsung bangkit dari posisi telungkup dengan berdiri sambil berusaha membuka baju Arie yang masih melekat di badannya. "Buka yaa Sayang bajunya," pinta Tante Rani sambil membuka baju Arie perlahan namun pasti. Setelah baju Arie terbuka, Tante Rani membuka juga celana pendek Arie agar posisinya tidak terganggu.



Lalu Tante Rani membuka dasternya dengan kedua tangannya, ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di depan Arie. Melihat dua gunung yang telah merekah oleh gesekan sofa dan liang kewanitaan tantenya yang merah ranum akibat gesekan bantal sofa, Ari menelan ludah. Ia tidak membayangkan ternyata tantenya mempunyai tubuh yang indah. Ditambah lagi ia sangat trampil dalam memainkan batang kemaluan laki-laki.



Masih dengan posisi duduk, tantenya sekarang ada di atas permadani dan ia langsung menghisap kembali batang kemaluan Arie sambil tangannya bergantian meraba-raba sisi batang kemaluan Arie dan terus mengulumnya seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen dengan penuh gairah. Dengan bantuan payudaranya yang besar, Tante Rani menggesek-gesek payudaranya di belahan batang kemaluan Arie. Dengan keadaan itu Arie mengerang kuat sambil berkata, "Aduh Tante.. terus Tante.." Mendengar erangan Arie, Tante Rani tersenyum dan langsung mempercepat gesekannya. Melihat Arie yang akan keluar, Tante Rani dengan cepat merubah posisi semula dengan mengulum batang kemaluan dengan sangat liar. Sehingga warna batang kemaluan Arie menjadi kemerah-merahan dan di dalam batang kemaluannya ada denyutan-denyutan yang sangat tidak teratur. Arie menahan nikmat yang tiada tara sambil berkata, "Terus Tante.. terus Tante..", Dan Arie pun mendekap kepala tantenya agar masuk ke dalam batang kemaluannya dan semprotan yang maha dahsyat keluar di dalam mulut Tante Rani yang merekah. Mendapatkan semburan lahar panas itu, Tante Rani kegirangan dan langsung menelannya dan menjilat semua yang ada di dalam batang kemaluan Arie yang membuat Arie meraung-raung kenikmatan. Terlihat dengan jelas tantenya memang sudah berpengalaman karena bila sperma sudah keluar dan batang kemaluan itu tetap disedotnya maka akan semakin nikmat dan semakin membuat badan menggigil.



Melihat itu Tante Rani semakin menjadi-jadi dengan terus menyedot batang kemaluan Arie sampai keluar bunyi slurp.., slurp.., akibat sedotannya. Setelah puas menjilat sisa-sisa mani yang menempel di batang kemaluan Arie, lalu Tante Rani kembali mengulum batang kejantanan Arie dengan mulutnya yang seksi.



Melihat batang kemaluan Arie yang masih memberikan perlawanan, Tante Rani bangkit sambil berkata, "Gila kamu Riee.. kamu masih menantang tantemu ini yaah.. Tante sudah keluar hampir empat kali kamu masih menantangnya." Mendengar tantangan itu, Arie hanya tersenyum saja dan terlihat Tante Rani mendekat ke hadapan Arie sambil mengarahkan liang kewanitaannya untuk melahap batang kemaluan Arie. Sebelum memasukkan batang kemaluan Arie ke liang kewanitaannya, Tante Rani terlebih dahulu memberikan ciuman yang sangat mesra dan Arie pun membalasnya dengan hangat. Saling pagut terjadi untuk yang kedua kalinya, lidah mereka saling bersatu dan saling menyedot. Tante Rani semakin tergila-gila sehingga liang kewanitaannya yang tadinya menempel di atas batang kemaluan Arie sekarang tergeser ke belakang sehingga batang kemaluan Arie tergesek-gesek oleh liang kewanitaannya yang telah basah itu.



Mendapat perlakuan itu Arie mengerang kenikmatan. "Aduuh Tante.." sambil melepaskan pagutan yang telah berjalan cukup lama. "Clepp.." suara yang keluar dari beradunya dua surga dunia itu, perlahan namun pasti Tante Rani mendorongnya masuk ke lembah surganya. Dorongan itu perlahan-lahan membuat seluruh urat nadi Arie bergetar. Mata Tante Rani dipejamkan sambil terus mendorong pantatnya ke bawah sehingga liang kewanitaan Tante Rani telah berhasil menelan semua batang kemaluan Arie. Tante Rani pun terlihat menahan nikmat yang tiada tara.



"Ariee.." rintihan Tante Rani semakin menjadi ketika liang senggamanya telah melahap semua batang kemaluan Arie. Tante Rani diam untuk beberapa saat sambil menikmati batang kemaluan Arie yang sudah terkubur di dalam liang kewanitaannya.



"Riee, Tante sudah tidak kuat lagi.. Sayang.." desah Tante Rani sambil menggerakan-gerakkan pantatnya ke samping kiri dan kanan. Mulut tantenya terus mengaduh, mengomel sambil terus pantatnya digeser ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan permainan itu Arie mendesir, "Aduh Tante.. terus Tante.." mendengar itu Tante Rani terus menggeser-geserkan pantatnya. Di dalam liang senggama tantenya ada tarik-menarik antara batang kemaluan Arie dan liang kewanitaan tantenya yang sangat kuat, mengikat batang kemaluan Arie dengan liang senggama Tante Rani. Kuatnya tarikan itu dimungkinkan karena ukuran batang kemaluan Arie jauh lebih besar bila dibandingkan dengan milik Om Budiman.



Goyangan pantatnya semakin liar dan Arie mendekap tubuh tantenya dengan mengikuti gerakannya yang sangat liar itu. Kucuran keringat telah berhamburan dan beradunya pantat Tante Rani dengan paha Arie menimbulkan bunyi yang sangat menggairahkan, "Prut.. prat.. pret.." Tangan Arie merangkul tantenya dengan erat. Pergerakan mereka semakin liar dan semakin membuat saling mengerang kenikmatan entah berapa kali Tante Rani mengucurkan cairan di dalam liang kewanitaannya yang terhalang oleh batang kemaluan Arie. Tante Rani mengerang kenikmatan yang tiada taranya dan puncak dari kenikmatan itu kami rasakan ketika Tante Rani berkata di dekat telinga Arie. "Ariee.." suara Tante Rani bergetar, "Kamu kalau mau keluar, kita keluarnya bareng-bareng yaah". "Iya Tante.." jawab Arie.



Selang beberapa menit Arie merasakan akan keluar dan tantenya mengetahui, "Kamu mau keluar yaa." Arie merangkul Tante Rani dengan kuatnya tetapi kedua pantatnya masih terus menusuk-nusuk liang kewanitaan Tantenya, begitu juga dengan Tante Rani rangkulannya tidak membuat ia melupakan gigitannya terhadap batang kemaluan Arie. Sambil terus merapatkan rangkulan. Suara Arie keluar dengan keras, "Tantee.. Tantee.." dan begitu juga Tante Rani mengerang keras, "Riee..". Sambil keduanya berusaha mengencangkan rangkulannya dan merapatkan batang kemaluan dan liang kewanitaannya sehingga betul-betul rapat membuat hampir biji batang kemaluan Arie masuk ke dalam liang senggama Tante Rani.



Akhirnya Arie dan Tante Rani diam sesaat menikmati semburan lahar panas yang beradu di dalam liang sorga Tante Rani. Masih dalam posisi Tante Rani duduk di pangkuan Arie. Tante Rani tersenyum, "Kamu hebat Arie seperti kuda binal dan ternyata kepunyaan kamu lebih besar dari suaminya dan sangat menggairahkan."



"Kamu sebetulnya sudah tahu keinginan Tante dari dulu ya, tapi kamu berusaha mengelaknya yaa.." goda Tante Rani. Arie hanya tersenyum digoda begitu. Tante Rani lalu mencium kening Arie. Kurang lebih lima menit batang kemaluan Arie yang sudah mengeluarkan lahar panas bersemayam di liang kewanitaan Tante Rani, lalu Tante Rani bangkit sambil melihat batang kemaluan Arie. Melihat batang kemaluan Arie yang mengecil, Tante Rani tersenyum gembira karena dalam pikirannya bila batang kemaluannya masih berdiri maka ia harus terus berusaha membuat batang kemaluan Arie tidak berdiri lagi. Untuk menyakinkannya itu, tangan Tante Rani meraba-raba batang kemaluan Arie dan menijit-mijitnya dan ternyata setelah dipijit-pijit batang kemaluan Arie tidak mau berdiri lagi.



"Aduh untung batang kemaluanmu Riee.. tidak hidup lagi," bisik Tante Rani mesra sambil berdiri di hadapan Arie, "Soalnya kalau masih berdiri, Tante sudah tidak kuat Riee" lanjutnya sambil tersenyum dan duduk di sebelah Arie. Sesudah Tante Rani dan Arie berpagutan mereka pun naik ke atas dan masuk kamar-masing-masing.



Pagi-pagi sekali Arie bangun dari tempat tidur karena mungkin sudah kebiasaannya bangun pagi, meskipun badannya ingin tidur tapi matanya terus saja melek. Akhirnya Arie jalan-jalan di taman untuk mengisi kegiatan agar badannya sedikit segar dan selanjutnya badannya dapat diajak untuk tidur kembali karena pada hari itu Arie tidak ada kuliah. Kebiasaan lari pagi yang sering dilakukan di waktu pagi pada saat itu tidak dilakukannya karena badannya terasa masih lemas akibat pertarungan tadi malam dengan tantenya.



Lalu Arie pun berjalan menuju kolam, tidak dibayangkan sebelumnya ternyata Tante Rani ada di kolam sedang berenang. Tante Rani mengenakan celana renang warna merah dan BH warna merah pula. Melihat kedatangan Arie. Tante Rani mengajaknya berenang. Arie hanya tersenyum dan berkata, "Nggak ah Tante, Saya malas ke atasnya." Mendapat jawaban itu, Tante Rani hanya tersenyum, soalnya Tante Rani mengetahui Arie tidak menggunakan celana renang. "Sudahlah pakai celana dalam aja," pinta Tante Rani. Tantenya yang terus meminta Arie untuk berenang. Akhirnya iapun membuka baju dan celana pendeknya yang tinggal melekat hanya celana dalamnya yang berwarna biru.



Celana dalam warna biru menempel rapat menutupi batang kemaluan Arie yang kedinginan. Loncatan yang sangat indah diperlihatkan oleh Arie sambil mendekati Tante Rani, yang malah menjauh dan mengguyurkan air ke wajah Arie. Sehingga di dalam kolam renang itu Tante Rani menjadi kejaran Arie yang ingin membalasnya. Mereka saling mengejar dan saling mencipratkan air seperti anak kecil. Karena kecapaian, akhinya Tante Rani dapat juga tertangkap. Arie langsung memeluknya erat-erat, pelukan Arie membuat Tante Rani tidak dapat lagi menghindar.



"Udah akh Arie.. Tante capek," seru mesra Tante Rani sambil membalikkan badannya. Arie dan Tante Rani masih berada di dalam genangan kolam renang. "Kamu tidak kuliah Riee," tanya Tante Rani. "Tidak," jawab Arie pendek sambil meraba bukit kemaluan Tante Rani. Terkena rabaan itu Tante Rani malah tersenyum sambil memberikan ciuman yang sangat cepat dan nakal lalu dengan cepatnya ia melepaskan ciuman itu dan pergi menjauhi Arie. Mendapatkan perlakuan itu Arie menjadi semakin menjadi bernafsu dan terus memburu tantenya. Dan pada akhirnya tantenya tertangkap juga. "Sudah ah.. Tante sekarang mau ke kantor dulu," kata Tante Rani sambil sedikit menjauh dari Arie.



Ketika jaraknya lebih dari satu meter Tante Rani tertawa geli melihat Arie yang celana dalamnya telah merosot di antara kedua kakinya dengan batang kemaluannya yang sudah bangkit dari tidurnya. "Kamu tidak sadar Arie, celana dalammu sudah ada di bawah lutut.." Mendengar itu Arie langsung mendekati Tante Rani sambil mendekapnya. Tante Rani hanya tersenyum. "Kasihan kamu, adikmu sudah bangun lagi, tapi Tante tidak bisa membantumu karena Tante harus sudah pergi," kata Tante Rani sambil meraba batang kemaluan Arie yang sudah menegang kembali.



Mendengar itu Arie hanya melongo kaget. "Akhh, Tante masa tidak punya waktu hanya beberapa menit saja," kata Arie sambil tangannya berusaha membuka celana renang Tante Rani yang berwarna merah. Mendapat perlakuan itu Tante Rani hanya diam dan ia terus mencium Arie sambiil berkata, "Iyaa deh.. tapi cepat, yaa.. jangan lama-lama, nanti ketahuan orang lain bisa gawat."



Tante Rani membuka celana renangnya dan memegangnya sambil merangkul Arie. Batang kemaluan Arie langsung masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Rani yang sudah dibuka lebar-lebar dengan posisi kedua kakinya menempel di pundak Arie. Beberapa detik kemudian, setelah liang kewanitaan Tante Rani telah melahap semua batang kemaluan Arie dan dirasakannya batang kemaluan Arie sudah menegang. Tante Rani menciumnya dengan cepat dan langsung mendorong Arie sambil pergi dan tersenyum manis meninggalkan Arie yang tampak kebingungan dengan batang kemaluannya yang sedang menegang.



Mendapat perlakuan itu Arie menjadi tambah bernafsu kepada Tante Rani, dan ia berjanji kalau ada kesempatan lagi ia akan menghabisinya sampai ia merasa kelelahan. Lalu Arie langsung pergi meninggalkan kolam itu untuk membersihkan badannya.



Setelah di kamar, Arie langsung membuka semua bajunya yang menjadi basah itu, ia langsung masuk kamar mandi dan menggosok badan dengan sabun. Ketika akan membersihkan badannya, air yang ada di kamar mandinya ternyata tidak berjalan seperti biasanya. Dan langsung Arie teringat akan keberadaan kamar Yuni. Arie lalu pergi keluar kamar dengan lilitan handuk yang menempel di tubuhnya. Wajahnya penuh dengan sabun mandi. "Yuni.. Yuni.. Yuni.." teriak Arie sambil mengetuk pintu kamar Yuni. "Masuk Kak Ariee, tidak dikunci." balas Yuni dari dalam kamar.



Didapatinya ternyata Yuni masih melilitkan badan dengan selimut dengan tangannya yang sedang asyik memainkan kemaluannya. Permainan ini baru didapatkannya ketika ia melihat adegan tadi malam antara kakaknya dengan Arie dan kejadian itu membuat ia merasakan tentang sesuatu yang selama ini diidam-idamkan oleh setiap manusia.



"Ada apa Kak Arie," kata Yuni sambil terus berpura-pura menutup badannya dengan selimut karena takut ketahuan bahwa dirinya sedang asyik memainkan kemaluannya yang sudah membasah sejak tadi malam karena melihat kejadiaan yang dilakukan kakaknya dengan Arie. "Anu Yuni.. Kakak mau ikut mandi karena kamar mandi Arie airnya tidak keluar." Memang Yuni melihat dengan jelas bahwa badan Arie dipenuhi oleh sabun tapi yang diperhatikan Yuni bukannya badan tapi Yuni memperhatikan di antara selangkangannya yang kelihatan mencuat.



Iseng-iseng Yuni menanyakan tentang apa yang mengganjalnya dalam lilitan handuk itu. Mendengar pertanyaan itu niat Arie yang akan menerangkan tentang biologi ternyata langsung kesampaian dan Arie pun langsung memperlihatkannya sambil memegang batang kemaluannya, "Ini namanya penis.. Sayang," kata Arie yang langsung menuju kamar mandi karena melihat Yuni menutup wajahnya dengan selimut.



Melihat batang kemaluan Arie yang sedang menegang itu Yuni membayangkan bila ia mengulumnya seperti yang dilakukan kakaknya. Keringat dingin keluar di sekujur tubuh Yuni yang membayangkan batang kemaluan Arie dan ia ingin sekali seperti yang dilakukan oleh kakaknya juga ia melakukannya. Mata Yuni terus memandang Arie yang sedang mandi sambil tangan terus bergerak mengusap-usap kemaluannya.



Akhirnya karena Yuni sudah di puncak kenikmatan, ia mengerang akibat dari permainan tangannya itu telah berhasil dirasakannya. Dengan beraninya Yuni pergi memasuki kamar mandi untuk ikut mandi bersama Arie. Melihat kedatangan Yuni ke kamar mandi, Arie hanya tersenyum. "Kamu juga mau mandi Yun," kata Arie sambil mencubit pinggang Y




Yuni yang sudah di puncak kenikmatan itu hanya tersenyum sambil melihat batang kemaluan Arie yang masih mengeras. "Kak boleh nggak Yuni mengelus-elus barang itu," bisik Yuni sambil menunjuknya dengan jari manisnya. Mendengar permintaan itu Arie langsung tersenyum nakal, ternyata selama ini apa yang diidam-idamkannya akan mendapatkan hasilnya. Dalam pikiran Arie, Yuni sekarang mungkin telah mengetahui akan kenikmatan dunia. Tanpa diperintah lagi Arie langsung mendekatkan batang kemaluannya ke tangan Yuni dan menuntun cara mengelus-elusnya. Tangan Yuni yang baru pertama kali meraba kepunyaan laki-laki itu sedikit canggung, tapi ia berusaha meremasnya seperti meremas pisang dengan tenaga yang sangat kuat hingga membuat Arie kesakitan.



"Aduh.. jangan keras-keras dong Yuni, nanti batang kemaluannya patah." Mendengar itu Yuni menjadi sedikit kaget lalu Ari membantunya untuk memainkan batang kemaluannya dengan lembut. Tangan Yuni dituntunnya untuk meraba batang kemaluan Arie dengan halus lalu batang kemaluan Arie didekatkan ke wajah Yuni agar mengulumnya. Yuni hanya menatapnya tanpa tahu harus berbuat apa. Lalu Arie memerintahkan untuk mengulumnya seperti mengulum ice cream, atau mengulumnya seperti mengulum permen karet. Diperintah tersebut Yuni langsung menurut, mula-mula ia mengulum kepala batang kemaluan Arie lalu Yuni memasukkan semua batang kemaluan Arie ke dalam mulutnya. Tapi belum juga berapa detik Yuni terbatuk-batuk karena kehabisan nafas dan mungkin juga karena nafsunya terlalu besar.



Setelah sedikit tenang, Yuni mengulum lagi batang kemaluan Arie tanpa diperintah sambil pinggul Yuni bergoyang menyentuh kaki Arie. Melihat kejadian itu Arie akhirnya menghentikan kuluman Yuni dan langsung mengangkat Yuni dan membawanya ke ranjang yang ada di samping kamar mandi. Sesampainya di pinggir ranjang, dengan hangat Yuni dipeluk oleh Arie dan Yuni pun membalas pelukan Arie. Bibir Yuni yang polos tanpa lipstik dicium Arie dengan penuh kehangatan dan kelembutan. Dicium dengan penuh kehangatan itu Yuni untuk beberapa saat terdiam seperti patung tapi akhirnya naluri seksnya keluar juga, ia mengikuti apa yang dicium oleh Arie. Bila Arie menjulurkan lidahnya maka Yuni pun sama menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Arie. Dengan permainan itu Yuni sangat menikmatinya apalagi Arie yang bisa dikatakan telah dilatih oleh kakaknya yang telah berpengalaman.



Kecupan Yuni kadang kala keluar suara yang keras karena kehabisan nafas. "Pek.. pek.." suara bibir Yuni mengeluarkan suara yang membuat Arie semakin terangsang. Mendengar suara itu Arie tersenyum sambil terus memagutnya. Tangan Arie dengan trampil telah membuka daster putih yang dipakai Yuni. Dengan gerakan yang sangat halus, Arie menuntun Yuni agar duduk di pinggir ranjang dan Yuni pun mengetahui keinginan Arie itu. Bibir Yuni yang telah berubah warna menjadi merah terus dipagut Arie dengan posisi Yuni tertindih oleh Arie. Tangan Yuni terus merangkul Arie sambil bukit kemaluannya menggesek-gesekkan sekenanya.



Lalu Arie membalikkan tubuh Yuni sehingga kini Yuni berada di atas tubuh Arie, dengan perlahan tangan Arie membuka BH putih yang masih melekat di tubuh Yuni. Setelah berhasil membuka BH yang dikenakan Yuni, Arie pun membuka CD putih yang membungkus bukit kemaluan Yuni dilanjutkan menggesek-gesekkan sekenanya. Erangan panjang keluar dari mulut Yuni. "Auu.." sambil mendekap Arie keras-keras. Melihat itu Arie semakin bersemangat. Setelah Arie berhasil membuka semua pakaian yang dikenakan Yuni, terlihat Yuni sedikit tenang iapun kembali membalikkan Yuni sehingga ia sekarang berada di atas tubuh Yuni.



Arie menghentikan pagutan bibirnya ia melanjutkan pagutannya ke bukit kemaluan Yuni yang telah terbuka dengan bebas. Dipandanginya bukit kemaluan Yuni yang kecil tapi penuh tantangan yang baru ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang kecil-kecil. Kaki Yuni direnggangkan oleh Arie. Pagutan Arie berganti pada bibir kecil kepunyaan Yuni. Pantat Yuni terangkat dengan sendirinya ketika bibir Arie mengulum bukit kemaluan kecilnya yang telah basah oleh cairan. Harum bukit kemaluan perawan membuat batang kemaluan Arie semakin ingin langsung masuk ke sarangnya tapi Arie kasihan melihat Yuni karena kemaluannya belum juga merekah. Jilatan bibir Arie yang mengenai klitoris Yuni membuat Yuni menjepit wajah Arie. Semburan panas keluar dari bibir bukit kemaluan Yuni. Yuni hanya menggeliat dan menahan rasa nikmat yang baru pertama kali didapatkannya.



Lalu Arie merasa yakin bahwa ini sudah waktunya, ditambah lagi batang kemaluannya yang sudah terlalu lama menegang. Arie menarik tubuh Yuni agar pantatnya pas tepat di pinggir ranjang. Kaki Yuni menyentuh lantai dan Arie berdiri di antara kedua paha Yuni.



Melihat kondisi tubuh Yuni yang sudah tidak menggunakan apa-apa lagi ditambah dengan pemandangan bukit kemaluan Yuni yang sempit tapi basah oleh cairan yang keluar dari bibir kecilnya membuat Arie menahan nafas. Arie berdiri, dan batang kemaluannya yang besar itu diarahkan ke bukit kemaluan Yuni. Melihat itu Yuni sedikit kaget dan merasa takut Yuni menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Melihat gejala itu Arie hanya tersenyum dan ia sedikit lebih melebarkan paha Yuni sehingga klitorisnya terlihat dengan jelas. Ia menggesek-gesekkan batang kemaluannya di bibir kemaluan Yuni. Sambil menggesek-gesek batang kemaluan, Arie kembali mendekap Yuni sambil membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Melihat Arie yang membuka tangannya, Yuni langsung merangkulnya dan mencium bibir Arie. Pagutan pun kembali terjadi, bibir Yuni dengan lahapnya terus memagut bibir Arie. Suara erangan kembali keluar lagi dari mulut Yuni. "Aduhh.. Kaak.." erang Yuni sambil merangkul tubuh Arie dengan keras. Arie meraba-raba bukit kemaluan Yuni dengan batang kemaluannya setelah yakin akan lubang kemaluan Yuni, Arie mendorongnya perlahan dan ketika kepala kejantanan Arie masuk ke liang senggama Yuni. Yuni mengerang kesakitan, "Kak.. aduh sakit, Kak.."



Mendengar rintihan itu, Arie membiarkan kepala kemaluannya ada di dalam liang senggama Yuni dan Arie terus memberikan pagutannya. Kuluman bibir Yuni dan Arie pun berjalan lagi. Dada Arie yang besar terus digesek-gesekkan ke payudara Yuni yang sudah mengeras. Yuni yang menahan rasa sakit yang telah bercampur dengan rasa nikmat akhirnya mengangkat kakinya tinggi-tinggi untuk menghilangkan rasa sakit di liang senggamanya dan itu ternyata membantunya dan sekarang menjadi tambah nikmat.



Kepala kemaluan Arie yang besar baru masuk ke liang kewanitaan Yuni, tapi jepitan liang kemaluan Yuni begitu keras dirasakan oleh batang kemaluan Arie. Sambil mencium telinga kiri Yuni, Arie kembali berusaha memasukkan batang kemaluannya ke liang senggama Yuni. "Aduh.. aduh.. aduh.. Kak," Mendengar rintihan itu Arie berkata kepada Yuni. "Kamu sakit Yuni," bisik Arie di telinga Yuni. "Nggak tahu Kaak ini bukan seperti sakit biasa, sakit tapi nikmat.."



Mendengar penjelasan itu, Arie terus memasukkan batang kemaluannya sehingga sekarang kepala kemaluannya sudah masuk semua ke dalam liang senggama Yuni. Batang kemaluan Arie sudah masuk ke liang senggama Yuni hampir setengahnya. Batang kemaluannya sudah ditelan oleh liang kemaluan Yuni, kaki Yuni semakin diangkat dan tertumpang di punggung Arie. Tiba-tiba tubuh Yuni bergetar sambil merangkul Arie dengan kuat. "Aduhh.." dan cairan hangat keluar dari bibir kemaluan Yuni, Arie dapat merasakan hal itu melalui kepala kemaluannya yang tertancap di bukit kemaluan Yuni. Lipatan paha Yuni telah terguyur oleh keringat yang keluar dari tubuh mereka berdua.



Mendapat guyuran air di dalam bukit kemaluan itu, Arie lalu memasukkan semua batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Yuni. Dengan satu kali hentakan. "Preet.." Yuni melotot menahan kesakitan yang bercampur dengan kenikmatan yang tidak mungkin didapatkan selain dengan Arie. "Auh.. auh.. auh.." suara itu keluar dari mulut kecil Yuni setelah seluruh batang kejantanan Arie berada di dalam lembah kenikmatan Yuni. "Kak, Badan Yuni sesak, sulit bernafas," kata Yuni sambil menahan rasa nikmat yang tiada taranya. Mendengar itu lalu Arie membalikkan tubuh Yuni agar ia berada di atas Ari. Mendapatkan posisi itu Yuni seperti pasrah dan tidak melakukan gerakan apapun selain mendekap tubuh Arie sambil meraung-raung kenikmatan yang tiada taranya yang baru kali ini dirasakannya.



Yuni dan Arie terdiam kurang lebih lima menit. "Yuni, sekarang bagaimana badanmu," kata Arie yang melihat Yuni sekarang sudah mulai menggoyang-goyangkan pantatnya dengan pelan-pelan. "Udah agak enakan Kak," balas Yuni sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan serangan itu Arie langsung mengikuti gerakan goyangan itu dan goyangan Arie dari atas ke bawah.



Lipantan-lipatan kehangatan tercipta di antara selangkangan Yuni dan Arie. Sambil menggoyangkan pantatnya, mulut Yuni tetap mengaduh, "Aduhh.." Merasakan nikmat yang telah menyebar ke seluruh badannya. Tanpa disadari sebelumnya oleh Arie. Yuni dengan ganasnya menggoyang-goyangkan pantatnya ke samping dan ke kiri membuat Arie kewalahan ditambah lagi kuatnya jepitan bukit kemaluan Yuni yang semakin menjepit seperti tang yang sedang menjepit paku agar paku itu putus. Beberapa menit kemudian Arie memeluk badan Yuni dengan eratnya dan batang kemaluannya berusaha ditekan ke atas membuat pantat Yuni terangkat. Semburan panaspun masuk ke bukit kemaluan Yuni yang kecil itu. Mendapat semburan panas yang sangat kencang, Yuni mendesis kenikmatan sambil mengerang, "Aduhh.. aduh.. Kak.."



Selang beberapa menit Arie diam sambil memeluk Yuni yang masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat. Setelah badannya merasa sudah agak baik, Arie membalikkan tubuh Yuni sehingga sekarang tubuh Yuni berada di bawah Arie. Batang kemaluan Arie masih menancap keras di lembah kemaluan Yuni meskipun sudah mengeluarkan sperma yang banyak. Lalu kaki Yuni diangkat oleh Arie dan disilangkan di pinggul. Arie mengeluarkan batang kemaluannya yang ada di dalam liang senggama Yuni. Mendapat hal itu mata Yuni tertutup sambil membolak-balikkan kepala ke kiri dan ke kanan lalu dengan perlahan memasukkan lagi batang kemaluannya ke dalam liang senggama Yuni, turun naik batang kemaluan Arie di dalam liang perawan Yuni membuat Yuni beberapa kali mengerang dan menahan rasa sakit yang bercampur dengan nikmatnya dunia. Tarikan bukit kemaluan Yuni yang tadinya kencang pelan- pelan berkurang seiring dengan berkurangnya tenaga yang terkuras habis dan selanjutnya Arie mengerang-erang sambil memeluk tubuh Yuni dan Yuni pun sama mengeluarkan erangan yang begitu panjang, keduanya sedang mendapatkan kenikmatan yang tiada taranya.



Arie mendekap Yuni sambil menikmati semburan lahar panas dan keluarnya sperma dalam batang kemaluan Arie dan Yuni pun sama menikmati lahar panas yang ada dilembah kenikmatannya. Kurang lebih lima menit, Arie memeluk Yuni tanpa adanya gerakan begitu juga Yuni hanya memeluk Arie. Dirasakan oleh Arie bahwa batang kemaluannya mengecil di dalam liang kemaluan Yuni dan setelah merasa batang kemaluannya betul-betul mengecil Arie menjatuhkan tubuhnya di samping Yuni. Arie mencium kening Yuni. Yuni membalasnya dengan rintihan penyesalan, seharusnya Arie bertanggung jawab atas hilangnya perawan yang dimiliki Yuni.



Mendengar itu Arie hanya tersenyum karena memang selama ini Arie mendambakan istri seperti Yuni ditambah lagi ia mengetahui bila hidup dengan Yuni maka ia akan mendapatkan segalanya. Arie mengucapkan selamat bobo kepada Yuni yang langsung tertidur kecapaian dan Arie langsung keluar dari kamar Yuni setelah Arie menggunakan pakaiannya kembali.



Arie masuk ke dapur, didapatnya tantenya sedang dalam keadaan menungging mengambil sesuatu. Terlihat dengan jelas celana merah muda yang dipakai tantenya. Tante Rani dibuat kaget karena Arie langsung meraba liang kewanitaannya yang terbungkus CD merah muda sambil menegurnya. "Tante sudah pulang," tanya Arie. Sambil melepaskan rabaan tangannya di liang kewanitaan tantenya. Lalu Arie membuka kulkas untuk mencari air putih. "Iya, Tante hanya sebentar kok. Soalnya Tante kasihan dengan burung kamu yang tadi Tante tinggalkan dalam keadaan menantang," jawab Tante Rani sambil tersenyum. "Bagaimana sekarang Arie burungnya, sudah mendapatkan sarang yang baru ya.." Mendapat ejekan itu, Arie langsung kaget. "Ah Tante, mau cari sangkar dimana," jawab Arie mengelak. "Arie kamu jangan mengelak, Tante tau kok.. kamu sudah mendapatkan sarang yang baru jadi kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak kamu akan Tante laporkan sama Oom dan kedua orang tuanmu bahwa kamu telah bermain gila bersama Yuni dan Tante."



Mendengar itu, Arie langsung diam dan ia akan menikahi Yuni seperti yang dijanjikanya. Mendengar hal itu Tante Rani tersenyum dan memberikan kecupan yang mesra kepada Arie sambil meraba batang kemaluan Arie yang sudah tidak kuat untuk berdiri. Melihat batang kemaluan Arie yang sudah tidak kuat berdiri itu Tante Rani tersenyum. "Pasti adikku dibuatnya KO sama kamu yaa.. Buktinya burung kamu tidak mau berdiri," goda Tante Rani. "Ahh nggak Tante, biasa saja kok."



Tante Rani meninggalkan Arie, sambil mewanti-wanti agar menikahi adiknya. Akhirnya pernikahan Yuni dengan Arie dilakukan dengan pernikahan dibawah tangan atau pernikahan secara agama tetapi dengan tanpa melalui KUA karena Yuni masih di bawah umur.



TAMAT

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management